Prancis Kecam Israel, Sebut Serangan ke Lebanon Rusak Gencatan Senjata

Jum'at, 10/04/2026 10:11 WIB

Paris, Jurnas.com - Kekhawatiran komunitas internasional meningkat menyusul gelombang serangan udara Israel dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Beirut dan sejumlah wilayah Lebanon lainnya, memicu kekhawatiran akan fase eskalasi baru di Timur Tengah.

Lebanon dihantam sekitar 100 serangan tanpa peringatan hanya dalam 10 menit pada Rabu lalu, menewaskan dan melukai ratusan orang hanya beberapa jam setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata atas konflik yang dimulai sejak 28 Februari.

Jean-Yves Le Drian, utusan pribadi Presiden Prancis untuk Lebanon sekaligus mantan menteri pertahanan dan luar negeri, mengecam keras serangan tersebut. Dia menyebutnya tindakan ini tidak dapat diterima, dan menyebabkan pembantaian yang mengerikan.

Menurut dia, dikutip dari Arab News pada Jumat (10/4), skala serangan itu menandai ambang batas kritis yang seharusnya tidak dilintasi.

"Yang dipertaruhkan hari ini adalah integritas dan kedaulatan Lebanon," ujar Le Drian.

Le Drian menilai gencatan senjata AS-Iran sejatinya penting, namun telah dirusak oleh kelanjutan operasi militer Israel. Menurutnya, kesepakatan itu "jelas prinsipnya, tidak ambigu, dan seharusnya berlaku di seluruh wilayah, termasuk Lebanon."

Dengan menyerang Beirut, Israel dinilai bertindak melawan momentum diplomatik yang memungkinkan gencatan senjata itu terwujud, memicu ketidakpercayaan yang meluas di antara semua pihak.

Le Drian juga memperingatkan paradoks berbahaya dari strategi militer Israel. Alih-alih melemahkan Hizbullah, intensifikasi serangan justru berpotensi memperkuat pengaruh kelompok itu.

"Eskalasi hari ini secara tidak langsung memperkuat peran Hizbullah, yang memposisikan diri sebagai pelindung negara," kata dia.

Le Drian juga mendesak kelompok militer itu untuk menentukan pilihan terkait memilih Lebanon atau Iran. "Tidak ada alternatif lain," tegas dia.

Di sisi kemanusiaan, Le Drian menyebut situasi di lapangan memburuk dengan cepat. Intervensi Israel telah memaksa hampir satu juta orang mengungsi dan bertahan hidup di jalanan, dengan risiko serius terhadap kohesi internal Lebanon.

Prancis, lanjut dia, terus memberikan dukungan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon termasuk melalui pengiriman kendaraan lapis baja, sekaligus melanjutkan upaya bantuan kemanusiaan.

Meski demikian, Le Drian masih melihat peluang diplomatik. Pemerintah Lebanon baru-baru ini mengusulkan pembicaraan langsung dengan Israel, sebuah inisiatif yang dia gambarkan sebagai isyarat yang cukup signifikan dan berpotensi menjadi titik balik.

Negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi, disebutnya telah muncul sebagai pemain kunci dalam upaya de-eskalasi dan mediasi. "Prancis selalu berpendapat bahwa konflik harus diselesaikan melalui negosiasi. Itu sudah ada di meja perundingan; itu harus dibahas," dia menambahkan.

TERKINI
Marc Klok Akui Persib Bandung Kewalahan saat Hadapi Bali United Kejar Rekor Clean Sheet, Teja: Yang Penting Menang Dulu MVP Lawan Persebaya, Allano: Ini Hasil Kerja Keras Seluruh Tim 15 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini