Senin, 16/02/2026 19:25 WIB
Moskow, Jurnas.com - Rusia membantah tudingan lima negara Eropa yang menyatakan Kremlin membunuh kritikus pemerintah Alexei Navalny dua tahun lalu menggunakan racun dari katak panah beracun. Dikatakan bahwa klaim tersebut tidak berdasar.
Navalny, yang dikenal sebagai pengkritik domestik paling menonjol terhadap Presiden Vladimir Putin, meninggal dunia pada Februari 2024 dalam usia 47 tahun di sebuah penjara terpencil di wilayah Arktik.
Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum Putin kembali terpilih dalam pemilu telak yang menurut negara-negara Barat tidak berlangsung bebas maupun adil.
Dalam pernyataan bersama pada Sabtu, Inggris, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda mengatakan analisis sampel dari tubuh Navalny telah secara meyakinkan mengonfirmasi keberadaan epibatidine, racun yang ditemukan pada katak panah beracun di Amerika Selatan dan tidak ditemukan secara alami di Rusia.
Eropa Tuduh Kremlin Racuni Alexei Navalny dengan Racun Langka
Rusia Siap Kembali ke Kesepakatan Ekspor Biji-Bijian, tapi Ada Syaratnya
Dukung Warga Serbia di Kosovo, Rusia: Hak Mereka Harus Dihormati
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan pada Senin (16/2) bahwa Moskow memandang tuduhan Eropa tersebut secara sangat negatif dan menilai klaim itu keliru.
"Secara alami, kami tidak menerima tuduhan seperti itu. Kami tidak setuju. Kami menganggapnya bias dan tidak berdasar. Dan pada dasarnya, kami menolaknya dengan tegas," kata Peskov dikutip dari Reuters.
Otoritas Rusia yang telah melarang gerakan Navalny dengan label ekstremis, sebelumnya juga menolak tuduhan dari janda Navalny, Yulia Navalnaya, yang menyatakan negara berada di balik kematiannya. Pemerintah Rusia menegaskan Navalny meninggal karena sebab alami.