Senin, 12/01/2026 22:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Masa muda sering dianggap sebagai waktu terbaik untuk menikmati hidup. Penghasilan pertama, kebebasan finansial awal, dan minimnya tanggungan membuat banyak anak muda merasa aman secara ekonomi.
Sayangnya, justru pada fase inilah kesalahan finansial paling sering terjadi. Banyak penyesalan di usia matang bukan karena kurangnya penghasilan di masa muda, melainkan karena keputusan keuangan yang keliru dan kebiasaan buruk yang dibiarkan terlalu lama.
Banyak anak muda merasa cukup selama uang masih ada. Tanpa pencatatan, pengeluaran kecil yang terus berulang sering tidak terasa, tetapi perlahan menggerus kondisi keuangan. Kebiasaan ini membuat seseorang sulit mengevaluasi pola belanja dan rawan kehabisan uang sebelum akhir bulan.
2. Gaya Hidup Lebih Tinggi dari PenghasilanTekanan sosial dan keinginan tampil “setara” dengan lingkungan sering mendorong anak muda menjalani gaya hidup di luar kemampuan finansial. Ketika pengeluaran lebih besar dari pemasukan, masalah keuangan menjadi sulit dihindari, meski penghasilan tergolong cukup.
Iran Rekrut Anak Belasan Tahun Jadi Penjaga Pos di Teheran
Tekan Perceraian, Kemenag Dorong Penguatan Literasi Keuangan dalam Bimwim
Kemendes PDT Gandeng Bank Mandiri Tingkatkan Literasi Keuangan Warga Desa
Penggunaan kartu kredit, paylater, atau pinjaman online untuk kebutuhan non-esensial menjadi jebakan umum. Utang yang awalnya terasa ringan dapat menumpuk dan membebani keuangan di masa depan, terutama jika tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang.
4. Menunda Menabung dan InvestasiBanyak anak muda merasa menabung dan investasi bisa dilakukan nanti saat penghasilan lebih besar. Padahal, waktu adalah aset terpenting dalam keuangan. Menunda berarti kehilangan peluang pertumbuhan dana yang seharusnya bisa dimanfaatkan sejak dini.
Menganggap hidup akan selalu stabil adalah kesalahan yang sering terjadi. Tanpa dana darurat, kejadian tak terduga seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendesak dapat langsung mengguncang kondisi finansial dan memaksa seseorang berutang.
6. Kurang Literasi KeuanganMinimnya pemahaman tentang keuangan membuat banyak anak muda mudah tergoda oleh keputusan yang salah, mulai dari investasi tanpa riset hingga salah memilih produk keuangan. Kurangnya literasi membuat seseorang rentan dimanfaatkan dan sulit membedakan kebutuhan dengan keinginan.