Kamis, 08/01/2026 01:17 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Amerika Latin kini menghadapi tekanan geopolitik besar usai serangan militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela dan ancaman lanjutan terhadap beberapa negara di kawasan.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyasar Colombia, Kuba, dan Meksiko memicu kekhawatiran soal peran militer regional dalam menghadapi dominasi militer Washington.
Dalam perbandingan kekuatan militer, Amerika Serikat jauh unggul, dengan anggaran pertahanan 2025 mencapai sekitar USD 895 miliar dan kemampuan militer yang tidak tertandingi dalam perang konvensional.
Di sisi lain, negara-negara Amerika Latin memiliki kemampuan militer yang jauh lebih terbatas. Menurut peringkat Global Firepower 2025, Brazil adalah militer terkuat di kawasan dan berada di peringkat 11 dunia, sementara Meksiko (32), Kolombia (46), Venezuela (50) dan Kuba (67) masih jauh di bawah AS dalam jumlah personel, pesawat tempur, tank, kapal perang, dan anggaran.
Militer AS Kembali Serang Kapal di Pasifik Timur, Tiga Orang Tewas
Legislator Golkar: Akses Udara untuk Militer Asing Harus Transparan
Kemenlu Palestina Desak Gencatan Senjata Secara Menyeluruh
Namun kekuatan militer konvensional bukan satu-satunya elemen yang dimainkan di kawasan. Banyak negara di Amerika Latin memiliki paramiliter besar dan kelompok bersenjata yang tidak resmi, yang lebih mengandalkan taktik asimetris daripada konfrontasi langsung dengan kekuatan tradisional.
Kuba, misalnya, memiliki salah satu paramiliter terbesar di dunia, dengan lebih dari 1,14 juta anggota yang dibentuk sebagai cadangan sipil selain tentara reguler.
Di Venezuela, munculnya kelompok bersenjata pro-pemerintah seperti colectivos dan di Kolombia sejarah paramiliterisme tetap menjadi bagian dari dinamika keamanan nasional.
Di Meksiko, kartel narkoba beroperasi dengan persenjataan berat yang sering kali melebihi kemampuan polisi setempat, memaksa militer terlibat dalam operasi dalam negeri.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa militer Amerika Latin, meski memiliki kapasitas tertentu, tidak seimbang jika dihadapkan pada kekuatan militer AS dalam konflik konvensional.
Namun, strategi pertahanan kawasan mungkin akan semakin mengandalkan bentuk perlawanan non-konvensional, aliansi politik, dan diplomasi untuk meredam eskalasi konflik di wilayah yang kini tengah berada di bawah sorotan global.
Sumber: Al Jazeera