Venezuela Sebut Serangan AS Dinilai Ganggu Stabilitas Amerika Latin

Minggu, 04/01/2026 12:30 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Venezuela menuding Amerika Serikat memicu ketegangan kawasan menyusul klaim Presiden AS Donald Trump bahwa pasukannya melancarkan operasi besar dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Tuduhan tersebut memantik gelombang kecaman serta permintaan klarifikasi dari berbagai pihak, menurut keterangan para pejabat.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Ivan Gil, dalam wawancara dengan kantor berita Rusia RIA Novosti, menilai langkah Washington telah merusak stabilitas regional.

Ia mengatakan perdamaian Amerika Latin terganggu dan menyebut klaim serangan itu sebagai ancaman serius bagi keamanan kawasan.

Trump pada Sabtu (4/1) menyatakan AS telah menyerang Venezuela dan menyebut Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, ditangkap lalu dibawa ke luar negeri.

Sejumlah media kemudian memberitakan adanya ledakan di Caracas dan mengaitkannya dengan operasi unit elite Delta Force, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Pentagon maupun sumber independen.

Pemerintah Venezuela menyebut tidak mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut bukti bahwa presiden masih hidup, menambah ketidakpastian atas klaim Washington dan laporan media.

Trump selanjutnya mengunggah foto yang disebut memperlihatkan Maduro di atas kapal AS, namun keaslian dan konteks gambar itu belum terverifikasi.

Sejumlah anggota Kongres AS dari kedua partai menilai operasi tersebut ilegal dan bertentangan dengan hukum internasional, sementara pihak Trump menyatakan Maduro akan dihadapkan ke pengadilan.

Caracas merespons dengan menyebut klaim penangkapan itu sebagai tindakan agresif dan pelanggaran kedaulatan, serta mendesak komunitas internasional menekan AS agar memberikan penjelasan dan menahan eskalasi.

Kementerian Luar Negeri Venezuela berencana membawa persoalan ini ke organisasi internasional dan meminta digelarnya sidang darurat Dewan Keamanan PBB.

Rusia menyatakan solidaritas terhadap rakyat Venezuela dan mengaku khawatir atas laporan bahwa Maduro dan istrinya dipindahkan secara paksa. Moskow turut menyerukan pembebasan Maduro dan Cilia Flores serta menekankan pentingnya penyelesaian damai sesuai Piagam PBB.

Para analis memperingatkan, silang klaim dan kurangnya verifikasi berpotensi memperuncing ketegangan, sementara sejumlah negara di Amerika Latin memilih bersikap waspada sembari memantau perkembangan.

Sumber: Sputnik OANA Via Antara

TERKINI
Mendikdasmen Salurkan 1.577 IFP untuk Ribuan Sekolah di Sidoarjo Arif Rahman Diganjar Legislator Fokus Kesejahteraan Petani dan Nelayan Ketua Ombudsman Terima Rp1,5 Miliar dari Bos Tambang Nikel Ekspedisi Patriot 2026 Difokuskan ke Papua, Kementrans Libatkan 10 Kampus