Ini Amal Baik dan Buruk yang Tak Pernah Putus hingga Hari Kiamat

Jum'at, 02/01/2026 04:04 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Dalam pandangan Islam, kematian bukanlah garis akhir bagi catatan amal manusia. Justru setelah seseorang meninggal, masih ada amalan tertentu yang terus mengalir pahalanya selama manfaatnya tetap dirasakan orang lain.

Hal ini ditegaskan dalam sabda Nabi SAW tentang amalan yang tidak terputus meski seseorang telah wafat:

قالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi landasan gagasan amal jariyah, amalan yang terus memberi manfaat, sehingga pahalanya tetap tercatat bagi pelakunya meski ia telah tiada.

Al-Qur’an juga menggambarkan bagaimana Allah melipatgandakan balasan untuk kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Gambaran itu begitu indah, seperti benih yang tumbuh berlipat-lipat:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ، فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ini menunjukkan bahwa kebaikan yang terus menghadirkan manfaat, terlebih jika dilakukan dengan hati yang tulus akan berbuah pahala berlipat.

Namun, Islam juga mengingatkan sisi sebaliknya, yakni  dosa yang ikut mengalir ketika seseorang menjadi sebab tersebarnya keburukan. Peringatan itu disampaikan Nabi SAW berikut ini:

وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barang siapa mencontohkan keburukan dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Karena itu, setiap sikap, ucapan, dan perbuatan patut dipikirkan matang-matang — apakah kelak ia akan menjadi sumber pahala, atau justru menambah beban dosa.

Al-Qur’an pun mengingatkan bahwa siapa pun yang menjerumuskan orang lain pada kesesatan, bisa ikut memikul tanggung jawab atas dampaknya:

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ
“Dan sungguh mereka akan memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa lain di samping dosa mereka.” (QS. العنكبوت: 13)

Ayat ini menekankan bahwa meninggalkan jejak keburukan bukan perkara ringan. Karena itu, seorang muslim dianjurkan berlomba menanam kebaikan, mengajarkan ilmu, menolong sesama, membangun kemanfaatan, agar yang terus mengalir setelah kematian hanyalah pahala, bukan sebaliknya.

TERKINI
Marc Klok Akui Persib Bandung Kewalahan saat Hadapi Bali United Kejar Rekor Clean Sheet, Teja: Yang Penting Menang Dulu MVP Lawan Persebaya, Allano: Ini Hasil Kerja Keras Seluruh Tim 15 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini