Fenomena Mencari Pelampiasan Usai Putus, Ini Penjelasannya

Senin, 10/11/2025 17:01 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Setelah hubungan berakhir, sebagian orang memilih segera mencari pelampiasan. Baik lewat hubungan baru, aktivitas berlebihan, atau sekadar sibuk dengan pekerjaan. Fenomena ini ternyata punya penjelasan psikologis yang menarik.

Mencari pelampiasan adalah bentuk mekanisme pertahanan diri. Otak berusaha menghindari rasa sakit akibat kehilangan dengan mengalihkan fokus pada hal lain.

Beberapa orang merasa hampa setelah putus cinta, sehingga mencoba mencari validasi dari orang baru. Padahal, hubungan yang dimulai dari luka sering kali tidak sehat dan cenderung berumur pendek.

Pelampiasan juga bisa muncul dalam bentuk kebiasaan ekstrem, seperti berbelanja berlebihan atau makan tanpa kontrol. Ini cara otak mencari dopamin cepat untuk menutupi kesedihan.

Namun, bukan berarti semua pelampiasan buruk. Ada juga yang menyalurkannya lewat hal positif seperti berolahraga, menulis, atau traveling. Aktivitas ini membantu memperbaiki suasana hati tanpa menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Yang perlu diwaspadai adalah pelampiasan yang bersifat destruktif, seperti balas dendam, kecanduan alkohol, atau hubungan rebound yang hanya memperparah luka.

Psikolog menyarankan agar seseorang memberi waktu pada diri sendiri untuk memulihkan emosi. Proses ini disebut healing phase, masa ketika seseorang belajar menerima kehilangan dan memperkuat diri.

Menyibukkan diri memang bisa membantu, tapi tidak seharusnya menjadi pelarian dari refleksi diri. Menangis atau merasakan sedih adalah bagian dari penyembuhan yang sehat.

Berbicara dengan teman atau konselor dapat membantu melihat situasi dari sudut pandang baru. Dukungan sosial terbukti mempercepat pemulihan mental pasca putus cinta.

Jadi, pelampiasan boleh saja, asal dilakukan dengan sadar dan bertujuan untuk tumbuh, bukan melarikan diri. Cinta bisa hilang, tapi kendali atas diri tetap milik kita.

TERKINI
Dukungan Anggaran Dibutuhkan untuk Wujudkan Transparansi Penegakan Hukum KPK Soroti Program MBG: Akuntabilitas Lemah, Tak Ada Tolok Ukur Kemendikdasmen Tegaskan SPMB Bukan Seleksi, Siswa Dijamin Dapat Sekolah Ditjen Imigrasi Terbitkan 1.274 Golden Visa dengan Investasi Rp52 Triliun