Sabtu, 08/11/2025 14:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sejak lama, Mars jadi favorit para ilmuwan dan penulis fiksi ilmiah. Warna merahnya yang eksotis membuat banyak orang berharap planet ini bisa jadi rumah kedua bagi manusia. Tapi apakah benar Mars benar-benar tidak layak huni?
Secara fisik, Mars memang mirip Bumi. Ukurannya setengah dari Bumi, dan memiliki siang-malam hampir sama panjangnya. Namun, di balik kesamaan itu, ada perbedaan besar yang membuat manusia sulit hidup di sana tanpa bantuan teknologi ekstrem.
Pertama, atmosfer Mars sangat tipis, hanya sekitar 1 persen dari kepadatan atmosfer Bumi. Itu berarti manusia tidak bisa bernapas tanpa alat bantu, dan radiasi matahari bebas menembus permukaan planet. Tanpa pelindung magnetosfer seperti Bumi, radiasi kosmik bisa sangat mematikan.
Suhu rata-rata di Mars pun ekstrem: -63°C. Di malam hari bisa mencapai -100°C, bahkan di siang hari hanya berkisar 20°C di garis khatulistiwa. Air di permukaannya langsung membeku atau menguap karena tekanan udara rendah.
Ilmuwan Temukan Sungai Raksasa di Mars, Petunjuk bagi Pencarian Kehidupan
Hujan Tropis Pernah Guyur Mars? NASA Temukan Jejaknya di Batu Jezero
Terungkap! Rotasi Waktu Bikin Manusia Lebih Tua di Mars
Ilmuwan NASA memang menemukan jejak air beku dan mineral yang terbentuk oleh air cair, tanda bahwa di masa lalu Mars mungkin lebih hangat dan basah. Tapi kondisi itu sudah berubah jutaan tahun lalu ketika planet kehilangan medan magnetnya.
Upaya kolonisasi Mars sudah dirancang oleh banyak pihak, termasuk NASA dan SpaceX. Mereka tengah meneliti cara membangun habitat bertekanan tinggi, memproduksi oksigen dari karbon dioksida, dan mencari sumber air di bawah tanah.
Namun, semua itu masih jauh dari kata layak huni. Hingga kini, Mars lebih cocok disebut sebagai laboratorium alam semesta, bukan rumah baru. Planet ini menyimpan petunjuk tentang masa lalu Bumi dan bagaimana kehidupan bisa (atau tidak bisa) bertahan di lingkungan keras.
Jadi, meski film-film menggambarkan Mars sebagai tempat petualangan keren, kenyataannya bertahan hidup di sana jauh lebih sulit daripada yang terlihat di layar.