Sayyidah Ruqayyah, Putri Rasulullah SAW yang Wafat Saat Perang Badar

Sabtu, 11/10/2025 18:27 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Di tengah euforia kemenangan umat Islam pada Perang Badar, kabar duka datang dari Madinah. Sayyidah Ruqayyah, putri kedua Nabi Muhammad SAW, wafat saat perang berlangsung di medan Badar.

Sayyidah Ruqayyah meninggal dunia di bulan Ramadan tahun kedua Hijriah. Saat itu, Rasulullah SAW tengah memimpin pasukan Muslim menghadapi kekuatan Quraisy.

Kabar wafatnya sampai ketika Nabi Muhammad SAW belum kembali dari medan pertempuran. Setibanya di Madinah, beliau mendapati sang putri sedang dimakamkan. Kepergian Ruqayyah menjadi luka mendalam bagi Rasulullah. Duka itu kian terasa karena beliau tidak berada di sisinya di saat-saat terakhirnya.

Sayyidah Ruqayyah adalah putri Nabi dari pernikahannya dengan Khadijah binti Khuwailid. Ia dikenal sebagai sosok yang lembut, cerdas, dan penuh kasih. Kecintaan Rasulullah kepada Sayyidah Ruqayyah begitu dalam. Sejak kecil, Sayyidah Ruqayyah tumbuh dalam didikan langsung orang tuanya yang penuh nilai akhlak dan kesabaran.

Ia menikah dengan Utsman bin Affan, sahabat Nabi yang menjadi khalifah ketiga. Dari pernikahan itu, lahir seorang putra yang diberi nama Abdullah. Namun takdir berkata lain, Abdullah wafat saat masih kecil. Kehilangan putra tunggal membuat Sayyidah Ruqayyah terpukul dan jatuh sakit.

Saat itu, kondisi kesehatan Sayyidah Ruqayyah terus menurun. Di hari-hari menjelang akhir Ramadan, ia terbaring lemah di Madinah, dirawat oleh suaminya sendiri. Beratnya kehilangan dan penyakit yang tak kunjung membaik mengantarnya pada ajal. Beberapa sumber menyebut ia wafat pada tanggal 17, 20, atau 23 Ramadan.

Sementara itu, Rasulullah dan pasukannya sedang bertempur di Badar. Ketika kemenangan diraih, duka dari rumah menyambut beliau. Momen ini menorehkan luka dalam di tengah suasana gembira kemenangan Islam.

Namun kisah hidup Sayyidah Ruqayyah tak berhenti pada wafatnya. Ia dikenang sebagai perempuan yang turut memikul beban perjuangan sejak awal Islam. Sejarah mencatat, Sayyidah Ruqayyah bergelar Dzatu Hijratain, perempuan yang berhijrah dua kali. Pertama ke Habasyah, lalu ke Madinah.

Hijrah pertamanya bersama Utsman dilakukan atas perintah Nabi untuk menghindari tekanan kaum Quraisy. Setelah sempat kembali ke Makkah, mereka mendapati situasi belum aman, dan kembali diperintahkan berhijrah.

Di usianya yang masih muda, 22 tahun, Sayyidah Ruqayyah telah menjalani ujian besar dalam hidup. Mulai dari hijrah, kehilangan anak, hingga wafat di tengah perang besar pertama umat Islam.

Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, berdekatan dengan para keluarga dan sahabat Nabi. Meski tak banyak disebut, keteladanan Sayyidah Ruqayyah tetap hidup dalam sejarah Islam, sebagai teladan kesabaran, keteguhan, dan pengorbanan dalam menegakkan agama Islam. (*)

 

TERKINI
Beasiswa BIB Kemenag Buka Jalur Akselerasi, Ini Jadwal-Link Pendaftarannya Zulhijah atau Dzulhijjah, Mana yang Benar? Ini Penjelasannya Resmi! 1 Zulhijjah 1447 H Ditetapkan 18 Mei 2026, Iduladha 27 Mei Lima Museum Tertua di Dunia, Ada yang Berdiri Sejak Ribuan Tahun Lalu