Senin, 06/10/2025 23:32 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Dalam realitas kehidupan, tak sedikit orang yang terpaksa berutang demi memenuhi kebutuhan dasar. Dari biaya hidup hingga keadaan darurat, utang kerap menjadi jalan keluar sementara. Meski diperbolehkan dalam Islam, utang bukanlah hal yang ringan, baik secara moral maupun spiritual.
Rasulullah SAW tidak hanya mengingatkan umatnya tentang besarnya tanggung jawab atas utang, tetapi juga memberikan bimbingan melalui doa-doa khusus agar dimudahkan dalam melunasinya.
Islam tidak melarang berutang, selama dilakukan dengan niat yang baik dan kemampuan untuk membayar kembali. Namun, utang bukan sekadar masalah finansial. Ia bisa menjadi beban jiwa, penghalang kebebasan, bahkan urusan yang belum selesai hingga akhir hayat.
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW menegaskan pentingnya menyegerakan pelunasan utang. Bahkan, seseorang yang wafat dalam keadaan masih memiliki utang bisa tertahan amalnya, kecuali utangnya dilunasi atau diikhlaskan.
Hukum Mencuri karena Kelaparan, Apakah Diperbolehkan dalam Islam?
Bacaan Doa di Hari Selasa Lengkap dengan Artinya
Kapan Waktu Paling Baik Melaksanakan Sholat Tahajud? Ini Penjelasannya
Untuk membantu umatnya menghadapi tekanan akibat utang, Rasulullah SAW mengajarkan beberapa doa yang bisa diamalkan secara rutin. Di antaranya:
1. Doa Memohon Kecukupan Rezeki yang Halalاللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allāhumma akfinī biḥalālika ‘an ḥarāmika, wa aghninī bifaḍlika ‘amman siwāk.
Artinya: “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki yang halal dari-Mu sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain Engkau.”
(HR. Abu Dawud no. 1539; Tirmidzi no. 3563)
Doa ini mencerminkan permohonan agar seseorang mampu mencukupi kebutuhannya tanpa harus menempuh jalan yang haram atau bergantung pada manusia.
2. Doa Perlindungan dari Utang dan Tekanan Hidupاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-ḥazani, wa a‘ūdzu bika minal-‘ajzi wal-kasali, wa a‘ūdzu bika minal-jubni wal-bukhli, wa a‘ūdzu bika min ghalabatid-dayni wa qahrir-rijāl.
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kesusahan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”
(HR. Bukhari no. 2893; Muslim no. 2706)
Doa ini tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kondisi psikologis yang biasa dialami oleh mereka yang berada dalam tekanan utang.
Bukan Hanya Berdoa, Tapi Juga BerikhtiarDoa adalah senjata orang beriman. Namun selain berdoa, Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan antara tawakal (berserah diri) dan amal (usaha nyata). Umat Muslim dianjurkan untuk berikhtiar, mengatur keuangan dengan bijak, dan menghindari utang yang tidak perlu. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW ini bisa menjadi pegangan spiritual dan motivasi untuk bangkit dari kesulitan ekonomi.
Jalan Keluar yang Tak DisangkaAllah SWT berjanji akan memberikan solusi bagi orang yang bertakwa, termasuk dari persoalan utang:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Dalam hadis juga terdapat motivasi untuk melunasi utang dengan menyandarkan hati pada yang Maha Kaya, dan sertai dengan usaha nyata dan sunguh-sungguh.
“Barang siapa berutang dan berniat untuk melunasinya, maka Allah akan memudahkannya.”
(HR. Bukhari)