Selasa, 23/09/2025 20:43 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Penyakit Alzheimer selama ini dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari penuaan. Penyakit ini diprediksi akan menjadi krisis kesehatan global dalam beberapa dekade ke depan. Setiap 3 detik, satu orang di dunia didiagnosis mengalami demensia, dan sebagian besar kasusnya adalah penyakit Alzheimer.
Dikutip dari laman Science Alert, saat ini, lebih dari 50 juta orang hidup dengan Alzheimer. Jumlah ini diperkirakan akan melonjak menjadi 130 juta pada tahun 2050, menciptakan beban sosial dan ekonomi yang luar biasa.
Namun, menurut Emma Twiss (Mahasiswi Life Sciences, Queen`s University) dan Prof. Donald Weaver (Ahli Kimia & Neurosains, University of Toronto) sepertiga kasus Alzheimer bisa dicegah. Mereka menyodorkan pendekatan sederhana namun ilmiah: cukup dengan mengingat satu kata, SHIELD.
SHIELD adalah akronim yang merangkum lima pilar utama pencegahan Alzheimer, yaitu Sleep, Head injury prevention, Exercise, Learning, dan Diet. Gagasan ini dirancang untuk menggantikan pendekatan pencegahan lama yang terlalu teknis dan sulit dijangkau publik.
Heat Shield Bermasah, NASA Yakin Artemis II Tetap Aman Saat Kembali
FDA AS Perkenalkan Diagnosis Alzheimer melalui Tes Darah
Badai Cedera Bikin Ten Hag Dilema Jelang Community Shield
Tidur yang cukup dan berkualitas, misalnya, berperan penting dalam menjaga kesehatan otak. Kurang tidur terbukti mempercepat penumpukan protein penyebab Alzheimer di jaringan saraf.
Begitu pula dengan pencegahan cedera kepala, yang selama ini kerap diabaikan dalam percakapan publik. Padahal, trauma otak—baik karena kecelakaan, olahraga, maupun kekerasan rumah tangga—bisa meningkatkan risiko Alzheimer secara signifikan.
Olahraga juga menjadi elemen sentral karena menyasar banyak faktor risiko sekaligus, mulai dari obesitas hingga tekanan darah tinggi. Aktivitas fisik rutin terbukti menjaga fungsi kognitif dan memperlambat proses degenerasi otak.
Kemudian, ada aspek belajar seumur hidup yang memperkuat cadangan kognitif otak. Orang yang terus menantang pikirannya—melalui pendidikan, membaca, atau hobi intelektual—cenderung lebih tahan terhadap gejala demensia.
Terakhir, diet sehat menjadi fondasi yang menyokong keseluruhan sistem saraf. Pola makan seperti diet Mediterania terbukti mengurangi peradangan otak dan menjaga kesehatan pembuluh darah, dua faktor yang sangat terkait dengan Alzheimer.
Gagasan SHIELD yang ditawarkan oleh Twiss dan Weaver menekankan pentingnya pendekatan pencegahan yang sederhana, mudah diingat, dan berbasis bukti. Dengan memprioritaskan tidur berkualitas, pencegahan cedera kepala, aktivitas fisik, pembelajaran sepanjang hayat, dan pola makan sehat, kita dapat memperlambat atau mencegah munculnya Alzheimer secara signifikan. (*)