Kamis, 21/08/2025 22:38 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Di sejumlah daerah di Indonesia, bulan Safar kerap dipandang sebagai masa yang rawan musibah. Pandangan ini kemudian melahirkan tradisi Mandi Safar, sebuah ritual yang dipercaya sebagai bentuk ikhtiar untuk menolak bala.
Dikutip dari berbagai sumber, Mandi Safar dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan mandi bersama di sungai, laut, atau sumber mata air yang dianggap membawa keberkahan.
Selain mandi, masyarakat juga menggelar doa bersama dan pembacaan surah Yasin sebagai bentuk permohonan perlindungan dari Allah SWT. Kegiatan ini sering menjadi momen berkumpul yang memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Bagi sebagian masyarakat, tradisi ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari warisan budaya. Nilai spiritual dan nilai sosial berpadu, menciptakan ruang kebersamaan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
Bulan Zulkaidah Disebut Bulan Apit di Jawa, Begini Asal Usul dan Maknanya
Mimisan untuk Redakan Mimisan, Fakta atau Mitos?
Fakta vs Mitos Seputar Manfaat Sisik Trenggiling yang Wajib Diketahui
Pelaksanaan Mandi Safar kadang berbeda-beda di tiap daerah, namun semangatnya tetap sama. Di Banten misalnya, ribuan warga memadati pantai untuk mengikuti prosesi sambil berdoa dan menikmati suasana kebersamaan.
Sementara di Aceh, warga membawa anak-anak mereka ke sungai kadang pantai untuk dimandikan, sebagai simbol perlindungan dari penyakit dan gangguan gaib. Di wilayah Riau dan sekitarnya, air yang digunakan dalam ritual terlebih dahulu didoakan secara khusus.
Meski ada yang meyakini bukan bagian dari ajaran Islam secara langsung, tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun. Ia menjadi bagian dari identitas kultural yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Mandi Safar tahun ini bertepatan dengan Rabu, 20 Agustus 2025, di akhir bulan Safar 1447 Hijriah. Berdasarkan kalender hijriah, bulan Safar diperkirakan akan berakhir pada Minggu, 24 Agustus 2025, yang juga menandai masuknya bulan Maulid atau Rabiul Awal.
Momentum ini dianggap tepat oleh masyarakat untuk membersihkan diri secara lahir dan batin sebelum menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Mandi Safar juga menjadi refleksi spiritual menjelang fase baru dalam kehidupan keagamaan. (*)