Dosen Muda Muhammadiyah Sebut Mobilisasi Guru Besar Rentan Disalahtafsirkan

Senin, 05/02/2024 16:41 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Ikatan Dosen Muda Perguruan Tinggi Muhammadiyah (IDM-PTM) angkat suara menyikapi maraknya kaum cendikia bersuara terkait politik praktis. IDM-PTM mengeluarkan sembilan pernyataan, yang di antaranya meminta agar para cendikia bisa lebih menahan diri. Sebab, sikap mereka rentan disalahtafsirkan.

Pertama, universitas adalah rumah bagi intelektualitas, intelegensia dan kecendekiaan. Di dalamnya tumbuh pusparagam pikiran yang plural, majemuk dan tak pernah tunggal serta mustahil diseragamkan. Perbedaan pikiran, gagasan, sikap, termasuk kecenderungan preferensi politik adalah niscaya.

"Dengan demikian, nisbah gagasan atau sikap tertentu pada nama perguruan tinggi tertentu yang seolah sebagai sikap tunggal universitas tersebut adalah bertentangan dengan prinsip dasar universitas itu sendiri," ucap Ketua IDM-PTM Isnan Hari Mardika, seperti keterangan yang diterima, Senin (5/2).

Kedua, peran publik kaum cendekia dalam merespons isu tertentu yang berkembang di masyarakat merupakan bagian integral dari tri dharma perguruan tinggi yang menjadi kewajiban kaum cendekia untuk memajukan kehidupan berbangsa dan meninggikan kualitas peradaban publik.

Namun demikian, dalam momentum Pemilu seperti sekarang, hendaknya kaum cendekia mengedepankan sikap kehati-hatian karena rentan diperalat atau disalahgunagan sebagai alat legitimasi atau delegitimasi politik sebagai instrumen mobilisasi yang mengerdilkan peran intelektual hanya sebatas instrumen poliitis.

"Kaum cendekia harus sadar bahwa pada status, posisi, dan peran intelektual yang disandangnya, melekat kapital sosial dan modalitas politik yang bisa digunakan sebagai alat legitimasi dan mobilisasi elektoral," lanjut Isnan.

 

 

 

 

TERKINI
NRC Sebut Gencatan Senjata Lebanon `Momen Harapan` bagi Warga Sipil Fellowship Tanoto Foundation Cohort Dibuka, Ini Kriteria dan Jadwalnya PGRI Desak Pemerintah Buka CPNS Guru dan Setop Skema PPPK Myanmar Beri Amnesti untuk 4.335 Tahanan, Termasuk Suu Kyi