Jum'at, 19/01/2024 19:10 WIB
JAKARTA, Jurnas.com – Anggota Dewan Penasihat Timnas AMIN, Frans Immanuel Saragih menegaskan bahwa take down atau penghentian penayangan videotron pasangan Capres/Cawapres nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) beberapa waktu lalu, di Jakarta dan Bekasi, Jawa barat, sangat menciderai demokrasi.
“Kalau sudah pernah tayang dan tiba tiba berhenti sedangkan masa tayang masih ada maka ini harus diselidiki.Pihak Bawaslu juga jangan tinggal diam, harus menyelediki,” kata Frans di Jakarta, Jumat (19/1/2024).
Aktivis 98 yang juga Presidium Perhimpunan Aktivis (PA) 98 ini mengatakan, berbeda pilihan dalam politik adalah hal biasa, tetapi apa yang terjadi pada kasus penghentian penayangan vediotron AMIN, sudah melukai demokrasi.
“Saya sebagai Presidium PA 98 merasakan demokrasi yang kami perjuangkan tahun 98 kembali dilukai pada peristiwa ini. Demokrasi harus seluas luasnya diberikan kepada rakyat Indonesia, termasuk dalam proses Pemilu yang sedang berlangsung. Setiap Paslon Capres memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam proses demokrasi ini. Begitu juga dengan pendukungnya,” kata Frans.
Tahun Ini, Alfamidi Bakal Bagikan Dividen Rp396 Miliar
Fraksi Partai Golkar MPR Dukung Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Legislator PDIP: Majalah Parlementaria Jembatan DPR dengan Publik
“Saya mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk menghargai proses demokrasi yang sudah tumbuh di Indonesia. Jangan biarkan ada yang merusak demokrasi kita. Mari kita selamatkan demokrasi kita,” tutup Frans yang juga maju sebagai Caleg DPRD DKI dari NasDem wilayah Jakarta Pusat ini.