Program Matching Fund Dongkrak Indeks Inovasi dan Reputasi Indonesia

Sabtu, 28/10/2023 20:33 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Tiga tahun pelaksanaan program Matching Fund atau Dana Padanan telah memberikan dampak peningkatan yang signifikan pada Global Innovation Index (GII) atau Indeks Inovasi Indonesia, serta Score University-Industry Collaboration atau skor kolaborasi antara industri dan universitas di Indonesia.

Tahun ini, program Matching Fund kembali hadir dengan terobosan baru. Selain lebih awal, Matching Fund 2024 juga melakukan terobosan pembiayaan multiyear atau multi-tahun untuk menjamin keberlanjutan penelitian.

Pada 2021, GII yang menilai tingkat produktivitas dan inovasi, menempatkan Indonesia di peringkat 87. Akan tetapi, peringkat tersebut kemudian naik ke peringkat 75 pada 2022 dan semakin naik ke peringkat 61 dari 132 negara di tahun ini.

Tidak hanya GII, program Matching Fund yang telah berhasil menciptakan ekosistem kolaborasi antara antara perguruan tinggi dan industri dalam menghasilkan produk-produk inovasi juga berdampak pada peningkatan signifikan skor dari University-Industry Collaboration.

Pada 2020, skor University-Industry Collaboration Indonesia adalah 53,5. Sementara itu, pada 2023 skor Indonesia mencapai 87.4 atau meningkat 38 persen.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudritek), Kiki Yuliati, dalam kegiatan Peluncuran Program Matching Fund Vokasi 2024 mengatakan bahwa sebagai program terobosan, berbagai capaian Matching Fund tidak hanya membawa manfaat bagi dosen maupun industri saja, tetapi juga terhadap reputasi Indonesia di kancah global yang sedang terus diupayakan oleh pemerintah.

"Kita ingin menimbulkan kepercayaan masyarakat global tentang kesiapan kita menjadi negara yang mampu secara aktif dan produktif ikut dalam berbagai aktivitas ekonomi global," kata Kiki di Jakarta, pada Jumat (27/10).

Menurut Kiki, dengan reputasi yang baik di kancah global, maka kepercayaan para investor terhadap Indonesia akan meningkat. Dengan demikian, diharapkan dapat berdampak signifikan terhadap kemajuan ekonomi bangsa Indonesia.

Dia menambahkan bahwa terdapat pembaruan pada program Dana Padanan 2024, yakni terkait dengan skema pembiayaan yang dapat dilakukan secara multi-tahun (multiyears).

Selain dapat menjamin keberlanjutan riset, menurut Dirjen Kiki, skema pendanaan multi-tahun tersebut juga diharapkan mendorong pelaksanaan teaching factory atau teaching industry di perguruan tinggi vokasi.

"Salah satu yang ingin kami kejar dari multiyear ini adalah pembangunan teaching factory atau teaching industry di kampus-kampus vokasi. Karena pada dasarnya pendidikan vokasi adalah industrial based learning," terang dia.

Dengan skema pendanaan multi-tahun tersebut, diharapkan industri dapat bekerja sama dengan satuan pendidikan vokasi untuk mendukung pembelajaran sekaligus memproduksi barang atau jasa.

Sementara itu, Direktur Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi, Kemdikbudristek, Beny Bandanadjaja, mengatakan bahwa skema pendanaan multi-tahun diperuntukan untuk penelitian skema A, yakni hilirisasi inovasi hasil riset untuk tujuan komersialisasi, hilirisasi kepakaran untuk menjawab kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pengembangan produk inovasi bersama DUDI/mitra inovasi, dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) atau produk substitusi impor melalui proses reverse engineering.

Beny juga menyampaikan bahwa selama tiga tahun ini, penyelenggaraan program Matching Fund Vokasi mendapat antusiasme yang tinggi dari perguruan tinggi vokasi. Pada 2021 ada 258 proposal yang masuk, lalu 2022 sebanyak 552 proposal, dan pada 2023 ada 1.026 proposal.

"Kami berhasil mengeskalasi minat para dosen vokasi dan juga industri untuk terlibat dalam program Matching Fund Vokasi ini," kata Beny.

Pada 2023 total ada 1.292 dosen yang terlibat dalam program Matching Fund Vokasi dengan jumlah mahasiswa yang diikutsertakan mencapai 5.370 mahasiswa. Artinya, para mahasiswa tersebut telah merasakan langsung proses penciptaan sebuah inovasi yang diharapkan akan meningkatkan kompetensi mahasiswa.

Masih menurut Beny, dari sisi dana padanan kolaborasi yang dikeluarkan, baik oleh DUDI maupun Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, juga terus mengalami peningkatan, dengan dana dari DUDI yang lebih tinggi.

"Tahun 2023 total ada sekitar Rp200 miliar dana kolaborasi yang dikelola melalui program Matching Fund, di mana dana dari industri lebih besar dari dana yang diberikan oleh Ditjen Pendidikan Vokasi," ujar Beny.

Dengan tren yang terus positif tersebut, Beny berharap ke depannya program Matching Fund Vokasi dapat terus berjalan meskipun tidak lagi mendapat bantuan dana dari pemerintah.

TERKINI
Alasan Salat Tahiyyatul Masjid Sangat Ditekankan Ini Zodiak yang Dikenal Paling Jago Menggoda, Siapakah Dia? Bukan Hadiah Mewah, 5 Gestur Sederhana Ini Jadi Kunci Hubungan Langgeng Berbagai Amalan Sunah yang Dianjurkan Sebelum Shalat Jumat