Minggu, 17/09/2023 09:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Layanan kesehatan sangatlah preventif menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan, telah terjadi peningkatan dalam tiga tahun terakhir.
Terutama dalam upaya mempersiapkan peran ibu sekaligus keluarga dalam menyambut kelahiran si kecil serta tumbuh kembang anak secara optimal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat proporsi pengeluaran kesehatan untuk biaya pelayanan kesehatan preventif pada 2022 mencapai 29,13 persen. Hal ini jauh lebih besar dibandingkan 2020 yang hanya 15,70 persen.
Kesehatan dan tumbuh kembang anak perlu diperhatikan sedini mungkin. Apalagi, bagi ibu baru yang memulai masa kehamilan. Di mana, kesehatan fisik dan mental si ibu menjadi bagian penting guna mewujudkan kehidupan baru yang sehat.
Asal Usul Harlah PMII yang Diperingati Setiap 17 April
Raih KWP Award 2026, Amelia Komit Jaga Ruang Digital yang Sehat dan Aman
Sarmuji Sabet Penghargaan Legislator Responsif Terhadap Aspirasi Publik
Semua layanan kesehatan pun berpesan kepada seluruh masyarakat agar meningkatkan kesadaran ibu masa kini agar melakukan upaya preventif. Seperti memantau tumbuh kembang anak, pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan, hingga pemberian MPASI (makanan pendamping ASI setelah masa ASI eksklusif). Ini menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko stunting pada anak.
Perawatan preventif dalam masa kehamilan ini dapat mencegah terjadinya komplikasi kehamilan. Selain itu, mengedukasi para ibu mengenai langkah-langkah penting yang perlu dilakukan untuk memastikan kehamilan berjalan dengan sehat.
Seperti, menjalani gaya hidup sehat dan mengendalikan kondisi kesehatan dalam diri ibu. Lantas, apa saja layanan perawatan preventif yang dapat dimanfaatkan oleh para orang tua diseluruh layanan kesehatan.
Berikut tiga layanan preventif terkini :
Pertama, screening kesehatan janin. Saat masa kehamilan, ibu dapat melakukan pemeriksaan screening NIPT (non-invasive prenatal test ) dan fetomaternal untuk memastikan kesehatan kehamilan ibu dan kondisi janin.
Metode pemindaian ini juga memungkinkan orang tua sejak dini mengetahui kondisi janin sekaligus memberikan informasi bagi para dokter untuk melakukan langkah penanganan jika diperlukan.
Kedua, melakukan perawatan khusus pada masa neonatal, atau hari pertama kelahiran bayi yang merupakan fase yang kritis baik bagi kehidupan ibu maupun bayi. Berbagai jenis perawatan neonatal yang tersedia biasanya untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan neonatus (bayi baru lahir).
Seperti screening bayi baru lahir dilakukan terhadap penyakit jantung bawaan, screening pendengaran, atau screening penyakit-penyakit lain dilakukan pada seluruh bayi baru lahir.
Untuk bayi yang harus dirawat di NICU (neonatal intensive care unit), banyak layanan kesehatan yang menyediakan termasuk Program FICare – Family Integrated Care. Program ini, sangat bermanfaat untuk membantu menyiapkan orang tua terutama merawat bayi-bayi prematur sejak hari pertama mereka lahir.
Diketahui, program FICare memungkinkan ibu yang masih belum bisa menyusui, dapat memberikan kolostrumnya pada bayi dengan bantuan ayah dan melanjutkan aktivitas skin-to-skin di ruang NICU dengan bayi. Selain itu, para ahli dan tenaga medis yang merawat bayi dengan kondisi khusus secara intensif di NICU.
Adapun kegiatan-kegiatan FICare ini mencakup diantaranya (1) pemberian kolostrum/ASI dengan berbagai metode, (2) to-skin contact, (3) penggantian popok, (4) pemeriksaan suhu tubuh bayi oleh orang tua serta diskusi intens dan terbuka antara tim dokter/perawat dengan orang tua.
Ketiga, melakukan pemantauan tumbuh kembang anak, sebagai bentuk perlindungan pertama yang bisa diberikan ibu pada anak. Selanjutnya menyusui yang merupakan hak seorang anak yang harus didapatkannya setelah lahir.
Apabila dalam kondisi darurat terdapat keluhan kesehatan anak yang belum sepenuhnya pulih, maka dapat ditangani oleh tim dokter spesialis anak, agar segera dilakukan pemeriksaan dan pengobatan pada anak yang mengalami kondisi tidak stabil dan kritis.