Tanpa Stigma Kunci Ukesih Hadapi Kusta dengan Optimisme

Kamis, 09/02/2023 16:10 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Kusta merupakan penyakit menular yang selama ini erat kaitannya dengan stigma. Tak hanya dari lingkungan dan keluarga, stigma yang menghinggapi pasien kusta juga bisa datang dari diri sendiri.

Faktanya, stigma menjadi salah satu faktor penting dalam kesembuhan pasien kusta. Mereka yang mendapatkan stigma, tak jarang terasingkan dari keluarga masyarakat yang berujung depresi berkepanjangan. Dalam beberapa kasus, pengobatan akhirnya berhenti di tengah jalan.

Sebaliknya, tanpa stigma pasien kusta bisa menghadapi penyakit mereka dengan optimisme. Sebagaimana yang dialami oleh sejumlah Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Desa Sumurgintung, Subang, Jawa Barat, saat ditemui Jurnas.com pada Selasa (7/2) lalu.

Ukesih, warga Desa Pangsor, Pegaden Barat, Subang pertama kali mengetahui gejala kusta sejak 2015 silam. Kala itu, dia menemukan sebuah bercak putih di lengan kanannya. Siapa sangka, bercak putih gejala kusta ini malah membuat telapak kakinya mati rasa.

"Awalnya ada warna putih dulu (di lengan) terus kaki baal (mati rasa). Memang enggak kelihatan. Tapi waktu itu mengiranya kesemutan," kata perempuan kelahiran 8 Mei 1992 itu.

Butuh tujuh tahun bagi Ukesih untuk memeriksakan diri ke puskesmas, setelah mendapatkan saran dari tetangganya yang juga mengalami kusta. Dia pun melakukan pengobatan sejak Maret 2021 lalu.

Pada awal didiagnosis kusta, Ukesih memang sempat minder. Namun, itu tak berlangsung lama, karena setelahnya dia memberitahukan penyakit tersebut kepada suami, anak, dan keluarga besarnya. Responsnya positif, mereka mendukung penuh Ukesih menjalani pengobatan penuh selama satu tahun.

Demikian pula di lingkungan tempat tinggal Ukesih. Dia sempat diberi tahu bahwa kusta sebagai penyakit langka yang sulit sembuh. Namun, anggapan itu dia mentahkan dengan menjelaskan bahwa kusta bisa sembuh dan tidak menular jika sudah berobat. Berkat penjelasan itu, tetangganya turut memberikan dukungan atas pengobatannya.

"Kalau soal (stigma) perlakuan dari tetangga tidak ada," ungkap ibu dua anak tersebut.

Kini, Ukesih sudah menyelesaikan pengobatan. Kulitnya yang sempat memerah hinga menghitam, kini sudah kembali ke warna semula. Dia juga percaya diri untuk bergaul dengan masyarakat. Bahkan, Ukesih ikut bekerja mengikat rambutan bersama warga lainnya setiap hari.

"Hasilnya lumayan. Per ikat dibayar Rp600, kalau sehari bisa dapat Rp40-50 ribu," tutup Ukesih tersipu malu.

Untuk diketahui, penemuan kasus kusta di Indonesia tak lepas dari peran Yayasan NLR Indonesia, sebagai organisasi nirlaba yang bekerja di bidang penanggulangan kusta dan konsekuensinya melalui layanan kesehatan puskesmas.

Di Jawa Barat, Yayasan NLR Indonesia bekerja sama dengan sejumlah kabupaten, antara lain Cirebon, Subang, Indramayu, Karawang, Kuningan, dan Bekasi untuk penemuan kasus kusta. NLR Indonesia juga bermitra dengan pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk eliminasi kusta.

TERKINI
Trump Sebut Perang dengan Iran akan Segera Berakhir Hukum Mencuri karena Kelaparan, Apakah Diperbolehkan dalam Islam? Komisi X: Pendidikan Tinggi Hak Seluruh Warga, Bukan Privilese Luis Enrique Puji Mentalitas PSG Usai Lolos ke Semifinal Liga Champions