Rabu, 18/01/2023 15:17 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kepala Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan (BP3) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Rahmawati mengatakan bahwa siswa saat ini dituntut memiliki kompetensi. Karena itu, menghafal teori saja tidaklah cukup.
Hal ini disampaikan Rahmawati dalam kegiatan taklimat media Quipper pada Rabu (18/1) di Jakarta. Menurut dia, jika hanya menghafal teori, siswa kerap kali kebingungan saat mempraktikkan teori itu di dunia nyata.
"Kalau siswa hanya tahu teori, rumus, dan bisa mengerjakan saja tidak cukup. Karena kompetensi itu outcome-nya," terang Rahmawati.
"Yang dipelajari itu harus bisa dilihat dengan dunia nyata. Misalnya belajar kalkulus, tapi di luar kelas dia bingung apa sih kalkulus dalam dunia nyata," imbuh dia.
Catat, Ini Jadwal dan Mapel yang Bakal Diujikan di TKA
Hasil TKA Bakal Jadi Validasi Nilai Rapor dalam SNBP
Gila! Kecurangan UTBK Libatkan Ordal hingga Bimbel
Oleh karena itu, Kemdikbudristek mulai tahun ini mengubah skema penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi, melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Diharapkan, dari skema dan regulasi anyar tersebut pemerintah dapat meningkatkan standar kompetensi dasar siswa-siswi Indonesia, supaya siap menjadi sumber daya manusia yang unggul.
Dalam SNBT, terdapat dua jenis tes yakni Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Literasi dengan total tujuh subtes, yakni Kemampuan Penalaran Umum, Pengetahuan dan Pemahaman Umum, Kemampuan Memahami Bacaan dan Menulis, Pengetahuan Kuantitatif, Literasi dalam Bahasa Indonesia, Literasi dalam Bahasa Inggris, dan Penalaran Matematika.
"Sebelumnya, untuk menembus PTN (perguruan tinggi negeri) bukan berdasarkan kompetensi umum dan seluruh mapel. Akhirnya apa yang diharapkan mengubah mindset pembelajaran dan penilaian di kelas, itu semuanya terganggu karena ujiannya multiple choice (pilihan ganda)," tutup dia.
Keyword : Kemdikbudristek Menghafal Teori Rahmawati Kepala BP3 SNBT SNBP