Selasa, 29/11/2022 13:21 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Essity Indonesia sebagai perusahaan global di bidang hygiene dan health dalam memperingati Annual World AMR Awareness Week 2022 turut mendukung upaya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait AMR.
Sorbact® yang secara klinis terbukti efektif dan efisien dalam mempercepat kesembuhan pasien dan mengurangi beban biaya perawatan. Untuk memperluas akses masyarakat Indonesia dalam perawatan luka dengan Sorbact®, sejak 2015 produk-produk Essity telah terdaftar dalam Jaminan Kesehatan Nasional.
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) menyatakan bahwa AMR adalah salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara berkembang dan dapat menjadi penyebab 10 juta kematian per tahunnya di seluruh dunia pada tahun 2050.
Gustavo Vega, Direktur Komersial Essity Indonesia menyampaikan,”Kita tidak bisa menunggu. Masalah AMR perlu menjadi perhatian utama dan penting selain pandemi Covid-19. Hasil survei Global Hygiene & Health Essity tahun 2022 terhadap lebih dari 15.000 orang di 15 negara di seluruh dunia menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terkait bahaya AMR masih rendah. Untuk itu Essity terus mendukung adanya kolaborasi untuk mencegah dan menurunkan AMR.”
Halalbihalal HIPKA Ajang Konsolidasi Pengusaha di Tengah Tekanan Global
Selama Angkutan Lebaran, 144 Ribu Orang Gunakan DAMRI Bandara
Mudik Pakai DAMRI Bisa Pilih Tempat Duduk Sesama Perempuan
Dalam pernyataan Kementerian Kesehatan yang dikutip pada website-nya, AMR saat ini bisa dikatakan sebagai pandemi senyap (silent pandemic) karena angka kematiannya cukup tinggi. Pada 2030, diperkirakan penggunaan antibiotik di seluruh dunia akan meningkat sebesar 30%, bahkan semakin meningkat sebesar 200% jika AMR tidak benar-benar ditangani dengan baik.
Sementara itu data WHO Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) sebagai data acuan nasional terkait AMR di Indonesia menunjukkan peningkatan presentase AMR di Indonesia pada tahun 2019.
Dr. Harry Parathon, Ketua Pusat Resistansi Antimikroba Indonesia (PRAINDO) mengatakan bahwa Resistansi antimikroba (AMR) terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit berubah dari waktu ke waktu dan tidak lagi merespons obat-obatan sehingga membuat infeksi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit hingga kematian.
"Secara global, gerakan pengendalian AMR sudah berjalan, salah satunya dengan usaha penerapan Antimirobial Stewardship (AMS). AMS menjadi strategi untuk memerangi peningkatan AMR dengan berfokus pada penggunaan antimikroba yang tepat guna oleh professional kesehatan dengan mengikuti aturan dan pedoman yang sudah ditetapkan, meningkatkan hasil perawatan pasien, mengurangi resistansi mikroba, dan mengurangi penyebaran infeksi yang disebabkan oleh organisme yang resistan terhadap obat. AMS menjadi penting di semua area perawatan kesehatan termasuk area spesialis manajemen luka,” jelas Dr.Harry.
Dr. Harry menambahkan bahwa salah satu area yang saat ini masih memiliki tingkat penggunaan antibiotik yang tinggi adalah perawatan luka. AMR mempengaruhi prosedur manajemen luka karena luka dapat menjadi saluran infeksi, memungkinkan masuknya mikroba, termasuk yang resistan antimikroba ke dalam jaringan. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri resistan antibiotik lebih sulit untuk diobati dan menyebabkan biaya pengobatan yang lebih tinggi, perawatan di rumah sakit yang lebih lama, dan meningkatkan kematian.
Joice Simanjuntak, Marketing Director Essity menjelaskan teknologi Sorbact® untuk perawatan luka yang dapat mencegah AMR. Sorbact® mengikat mikroba dengan mekanisme kerja murni secara fisik sehingga mikroba menjadi tidak aktif, dan mengangkatnya tanpa membunuh. Penelitian membuktikan bahwa mekanisme ini tidak mengakibatkan AMR.
Keyword : Essity IndonesiaSorbactAMR