Tito Paparkan Lima Langkah Strategis Deradikalisasi

Kamis, 19/01/2017 13:37 WIB

Jakarta - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memaparkan lima langkah strategis untuk menekan pengaruh radikalisme di Indonesia. Hal ini ia jabarkan dihadapan para kader DKN Garda Bangsa yang menggelar Muspimnas di hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (19/1/2017).

Langkah strategis pertama, kata Tito, adalah dengan cara menetralisir otak intelektual yang menjadi penentu bagi berkembangnya gerakan radikal. Untuk bisa netralisir, harus inventarisir data kelompok dan individu yang memiliki kemampuan merekrut.

"Kemudian berusaha untuk melemahkan, menetralisir dengan cara persuasif, mengubahnya jadi moderat dengan program counter ideology. Itu lah deradikalisasi. Orang yang sudah kena paham radikal dijadikan moderat. Adapun langkah menekan dengan mengerahkan kekuatan militer dan operasi intelijen," jelas Tito.

Adapun yang kedua adalah dengan cara kohersif. Tinggal pilih militer, intelijen atau law enforcement. "Saya berpendapat, karena demokrasi kita mengarah ke liberal pakai law enforcement tapi tetep ada unsur militer dan intelijen di dalamnya," ucapnya.

Tito mengatakan terdapat kelompok rentan terkontaminasi ajaran radikal di masyarakat.  Karena itu, menurutnya, perlu dilakukan langkah ketiga, yakni identifikasi terhadap masyarakat tertentu yang mudah terpapar paham kekerasan tersebut.

"Keempat, program counter media kelompok itu. Dalam kelompok radikal ada istilah jihad digital di dunia maya. Caranya e-shopping dengan kartu kredit palsu, hacking uang orang kafir, e-training, e-recruitment dan cyber recruitment," jelasnya.

Adapun langkah kelima adalah dengan penelitian para ahli, termasuk ahli ilmu sosial. Dengan demikian akan diketahui apakah radikalisme itu karena faktor kemiskinan, atau faktor lain. Sebab sejauh ini ada yang karena faktor spiritual atau ideologi.

"Faktor emosional atau dendam seperti kasus Poso. Ada juga karena faktor kemiskinan seperti di ISIS sebagian besar karena materi. Buktinya ada 60 sampai 70 orang yang kembali mengaku karena materi," tegas Tito.

TERKINI
Kerugian Perang Lebanon Capai 25 Miliar Dolar AS KPK Terbitkan Sprinduk Baru, Usut Korupsi Jalur Kereta di Sumsel Ini Lima Negara Asia yang Paling Sering Lolos ke Piala Dunia Keadilan Sosial di Alquran dan Pancasila dari Kebebasan hingga Kesejahtraan