Kamis, 25/08/2022 08:22 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres menyebut peringatan enam bulan dimulainya perang Rusia di Ukraina sebagai "tonggak yang menyedihkan dan tragis."
Guterres menyampaikan demikian selama pertemuan khusus Dewan Keamanan PBB di New York untuk menandai peringatan invasi Rusia ke tetangganya pada 24 Februari.
Sekjen PBB menggambarkan enam bulan konflik sebagai menghancurkan. "Konsekuensi dari perang yang tidak masuk akal ini dirasakan jauh di luar Ukraina," kata Guterres, merujuk pada dampaknya terhadap harga pangan dan bahan bakar.
"Jika kita tidak menstabilkan pasar pupuk pada tahun 2022, maka tidak akan ada cukup makanan pada tahun 2023," kata Guterres memperingatkan.
Sekjen PBB Desak Gencatan Senjata di Ukraina
PBB Minta Akses Masuk ke Jalur Gaza Dilonggarkan
Ketua DPR Surati Sekjen PBB, Desak Segera Akhiri Bencana Kemanusiaan di Gaza
Guterres mengatakan tetap sangat prihatin tentang aktivitas militer di sekitar pembangkit nuklir Zaporizhzhia di Ukraina selatan, pembangkit listrik tenaga atom terbesar di Eropa. "Lampu peringatan menyala," katanya.
"Setiap eskalasi situasi lebih lanjut dapat mengarah pada penghancuran diri. Keamanan pabrik harus dipastikan, dan pabrik harus dibangun kembali sebagai infrastruktur sipil murni," tambahnya.
Pabrik itu diduduki oleh pasukan Rusia dan diancam oleh penembakan, yang oleh Moskow dituduhkan kepada Kyiv.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang berbicara dalam pertemuan itu melalui tautan video, mengatakan kepada PBB bahwa Rusia "harus menghentikan pemerasan nuklir tanpa syarat" dan "mundur sepenuhnya" dari pabrik.
"Eropa dan wilayah tetangga menghadapi ancaman polusi radiasi. Ini adalah fakta," kata Zelenskyy dalam sesi yang diminta oleh Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, keberatan Zelenskyy diizinkan berbicara. Ia mengatakan tidak menentang partisipasi pemimpin Ukraina, tetapi fakta bahwa ia tidak hadir secara langsung.
Dewan beranggotakan 15 orang itu memberikan suara 13 banding satu untuk mengizinkan Zelenskyy berbicara, dengan China abstain.
Sumber: AFP