Gus Muhaimin: Koalisi Cair, Semua Parpol Masih Penjajakan

Minggu, 12/06/2022 14:18 WIB

Tangerang, Jurnas.com – Tensi politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 kian menghangat. Sejumlah partai politik (parpol) mulai bergerak untuk bisa memenangkan kontestasi kepemimpinan nasional.

Parpol pun mulai berancang-ancang membangun koalisi dengan parpol lainnya. Salah satunya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mulai intens berkomunikasi dengan sejumlah pimpinan parpol lain untuk menggagas koalisi.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhimin) mengatakan, sejauh ini rata-rata parpol masih melakukan penjajakan.

Termasuk PKB yang mulai menjajaki koalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan sejumlah parpol lainnya. Semua koalisi belum ada yang pasti, semua penjajakan.

"Dengan PKS juga masih penjajakan menuju lamran, baru pesta lamaran. Soal jadi atau tidak, nanti kita lihat,” ujar Gus Muhaimin kepada wartawan di sela acara Konser Kebangsaan Muhaimin bersama Kotak di Lapangan Ahmad Yani, Alun-alun Kota Tangerang, Banten, Minggu (12/6/2022).

Wakil Ketua DPR RI ini mengatakan bahwa komunikasi politik di antara para elite parpol masih sangat cair.

”Mungkin satu-satunya (koalisi) yang final mungkin KIB (Koalisi Indonesia Baru), tapi dari berbagai perbincangan masih cair semua. Saya tiap hari bertemu para pimpinan partai dan semuanya masih cair,” tuturnya.

Kendati belum memiliki partner koalisi yang sudah pasti, Gus Muhaimin yang sudah mendeklarasikan diri bakal maju sebagai calon presiden (capres), sudah melirik calon wakil presiden (cawapres) yang akan diajak maju dalam Pilpres 2024 mendatang.

”Insyaallah nanti kita maju di Pemilu 2024, dapat pasangan yang baik, pasangan yang tepat. Salah satu yang saya lirik untuk menjadi cawapres saya adalah Ibu Sri Mulyani, menteri keuangan,” ujar Gus Muhaimin.

Karena itu, Gus Muhaimin meminta doa dan dukungan seluruh elemen masyarakat agar langkahnya maju di Pilpres 2024 diberikan kemudahan dan kelancaran. Gus Muhaimin memiliki alasan kuat mengapa memilih Sri Mulyani sebagai cawapres.

”Cawapres sementara yang masuk dalam radar Ibu Sri Mulyani kerena beliau punya pengalaman dan dahsyat soal ekonomi. Ekonomi kita lagi sulit. Krisis akan menjadi resesi, resesi harus diantisipasi. Butuh wapres yang kuat dan mengerti soal ekonomi,” tuturnya.

Gus Muhaimin mengaku belum menjalin komunikasi secara langsung dengan Sri Mulyani soal niatnya menggandeng mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.

“Belum. Dalam waktu dekat, kita pasarkan dulu kepada partai-partai, kepada masyarakat, baru setelah itu kita bicara (dengan Sri Mulyani),” katanya.

Saat ini, cicit salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri ini masih berupaya mengajukan dirinya sebagai capres kepada parpol lain sampai memenuhi syarat ambang batas minimal presidential threshold (PT) 20%. Diketahui, PKB memiliki modal hampir 10% kursi di parlemen sehingga membutuhkan tambahan sekitar 10% lagi untuk bisa maju di Pilpres 2024.

Sebelumnya, pembicaraan mengenai wacana koalisi PKB dan PKS disampaikan Wakil Ketua Umum DPP PKB Jazilul Fawaid dan Sekjen PKS Habib Aboe Bakar Alhabsy. PKS bahkan menyiapkan ”karpet merah” untuk Gus Muhaimin maju sebagai capres.

"Misalkan Gus Muhaimin presiden, silakan, insya allah, bismillah, gak ada masalah. Buat PKS nggak penting presiden atau wapres, buat kami yang penting bagaimana membuat NKRI lebih bahagia. Kami siap sediakan karpet merah buat Repubik ini. Kita mainkan. Masuk barang itu,” katanya, Kamis (9/6/2022).

Menurutnya, PKB dan PKS memiliki basis grassroot yang hampir sama. Keduanya memiliki pemilih yang militant dengan mayoritas pemilihnya adalah kelompok Islam.

PKS yang militan dengan PKB yang berkuasa penuh di dunia pesantren, dan merakyat dengan ulama-ulama. Itu kalau bertemu, ngeri-ngeri sedap. Semua capres akan (merapat). Serius, jangan kaget kalau sampai terjadi,” katanya.

Habib Aboe mengatakan bahwa antara PKB dengan PKS memiliki banyak kesamaan. Keduanya adalah partai politik (parpol) sama-sama partai nasionalis yang bercorak Islam.

”Orang orang kami banyak yang alumni pesantren, dan kami sesama parpol yang lahir dari rahim Reformasi. Poros Tengah kan dulu kita yang membuat Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) jadi naik (Presiden),” tuturnya.

TERKINI
Berbagai Manfaat Lari Pagi untuk Kesehatan Ini Amalan agar Keinginan Ibadah Haji Cepat Terkabul Wafat saat Menunggu Antrean Haji, Apakah Tetap Dapat Pahala? 22 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini