Sabtu, 04/06/2022 17:14 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Potensi ekonomi digital di Indonesia sebesar Rp5.400 triliun harus mampu dimanfaatkan para wirausaha mapan baru dari kalangan kampus (mahasiswa) berbasis anak muda inovatif dan berpendidikan tinggi.
Hal itu, disampaikan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki Saat menjadi pembicara kunci dalam Kuliah Umum Kewirausahaan pada acara "Paten Goes To Campus" di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (4/6/2022).
"Jangan sampai potensi tersebut dikuasai asing. Pasalnya, saat ini, sekitar 50 persen produk yang ada di e-commerce merupakan barang impor. Para wirausaha muda saat ini, selain harus mampu menguasai pasar dalam negeri, juga harus kompetitif di pasar global," kata Teten Masduki dalam keterangan tertulisnya diterima di Jakarta, Sabtu (4/6/2022).
Terkait dengan hal itu, Teten mengajak para wirausaha muda untuk meningkatkan kemampuan dalam berkompetisi. Ke depan, kata dia, produk UMKM bangsa Indonesia harus berbasis inovasi, kreativitas, dan teknologi. "Dan itu harus disiapkan oleh kita semua, termasuk dari lembaga kampus," kata mantan aktivis anti korupsi ini.
Bernardo Silva Resmi Tinggalkan Manchester City Akhir Musim Ini
Big Match Manchester City vs Arsenal Panaskan Pekan ke-33 Liga Inggris
SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa untuk Saling Menguatkan
Oleh karena itu, dia mengharapkan UMP lebih kuat dalam mengembangkan inkubator bisnis di lingkungan kampus. "Pilih 2-3 produk unggulan untuk dikembangkan hingga memiliki daya saing tinggi di pasar," katanya menegaskan.
Lebih lanjut, Menteri Teten meyakini dari UMP bakal lahir banyak wirausaha muda berbasis kampus dan anak muda. Menurut dia, pangsa pasar anak muda saat sekarang adalah produk-produk custom atau handmade. "Ini peluang bagi para pelaku startup," katanya.
Kendati demikian, Teten mengingatkan dengan pasar terbuka seperti saat sekarang, bukan hanya produk startup Indonesia yang bisa masuk ke pasar dunia, tapi produk luar negeri juga bisa masuk ke pasar nasional. "Jadi, kita harus kompetitif. Artinya, kita harus kuat dalam ide dan kreativitas," katanya.
Selain itu, kata dia, ada 1,7 juta sarjana lulus setiap tahunnya dan tentunya tidak akan mampu terserap semuanya dalam dunia kerja. Berdasarkan hasil penelitian Asia Pacific Young Entrepreneurs Survey 2021 menunjukkan bahwa 72 persen generasi Z dan Milenial bercita-cita menjadi wirausaha.
Terkait dengan hal itu, Teten mengatakan universitas saat ini harus mengubah pola pikir melalui kurikulumnya dalam mencetak sarjana, untuk menjadi wirausaha berpendidikan yang berdaya saing dan inovatif dengan menciptakan lapangan kerja, bukan lagi pencari kerja.
"Universitas berperan penting dalam memajukan kewirausahaan, salah satunya dengan mendorong spin-off kewirausahaan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga, melahirkan wirausaha yang memiliki inovasi, kompetitif, serta siap tarung, baik di pasar domestik maupun global," kata Menkop dan UKM.
Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jebul Suroso mengatakan UMP merupakan Rumah UMKM karena perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut memiliki kurikulum dan mata kuliah kewirausahaan dengan tujuan meningkatkan jiwa wirausaha di kalangan mahasiswa. Pihaknya akan mengubah pola pikir mahasiswa agar ketika lulus mampu menjadi pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja.
Menurut dia, kegiatan ECP 2022 juga sebagai kegiatan untuk mengaplikasikan mata kuliah kewirausahaan yang telah diikuti mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMP di mana mahasiswa FEB harus mampu membaca pasar. "Lebih dari itu, selain dapat meningkatkan kreativitas pelaku usaha yang lebih pandai membaca pasar, juga agar tidak mudah putus asa," kata Rektor.