Jum'at, 27/05/2022 09:08 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Amerika Serikat (AS) mengatakan telah mengidentifikasi sembilan kasus cacar monyet (monkeypox) di tujuh negara bagian. Beberapa yang terinfeksi tidak memiliki riwayat perjalanan internasional baru-baru ini.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS kepada wartawan, hingga Rabu (25/5), sembilan kasus dikonfirmasi di Massachusetts, Florida, Utah, Washington, California, Virginia, dan New York.
Sebagian besar infeksi yang terdeteksi secara global sejauh ini belum parah. Banyak, tetapi tidak semua, telah dilaporkan pada pria yang berhubungan seks dengan pria. Gejalanya meliputi demam dan ruam bergelombang yang khas.
"Semua kasus AS terkait dengan gay, laki-laki biseksual dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan laki-laki," kata Direktur CDC, Rochelle Walensky dalam sebuah jumpa pers, dikutip dari Reuters.
New York Terancam Banjir Ekstrem, 4,4 Juta Warga Berisiko Terdampak
Biaya Perang Amerika Serikat terhadap Iran Tembus Rp1.000 Triliun
FIFA Rilis Tambahan Tiket Piala Dunia, Babak Final Tembus Rp188 Juta!
Walensky mendesak pendekatan yang dipandu oleh sains, bukan oleh stigma.
Lebih dari 20 negara di mana cacar monyet tidak endemik telah melaporkan wabah penyakit virus, dengan sekitar 200 dikonfirmasi dan lebih dari 100 kasus dugaan infeksi, sebagian besar di Eropa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak negara-negara untuk meningkatkan pengawasan terhadap cacar monyet.
Kasus cacar monyet pertama di As dilaporkan di Massachusetts pekan lalu.
Walensky menjelaskan, beberapa dari sembilan kasus yang diidentifikasi pada hari Rabu memiliki riwayat perjalanan internasional baru-baru ini ke daerah-daerah dengan wabah cacar monyet aktif tetapi yang lain tidak.
Penyakit yang sebagian besar terjadi di Afrika barat dan tengah ini merupakan infeksi virus yang pertama kali tercatat di Republik Demokratik Kongo pada 1970-an.
"Kita seharusnya tidak terkejut melihat lebih banyak kasus dilaporkan di AS dalam beberapa hari mendatang," kata Direktur Senior Gedung Putih untuk Keamanan Kesehatan dan Pertahanan Hayati, Raj Panjabi dalam konferensi pers.