Selasa, 29/03/2022 07:59 WIB
JOHANNESBURG, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Amnesty International, Agnes Callamard mengatakan, serangan Rusia di Ukraina mirip dengan tindakannya dalam perang Suriah.
"Apa yang terjadi di Ukraina adalah pengulangan dari apa yang telah kita lihat di Suriah," kata Callamard kepada AFP.
Ia menyampaikan hal itu saat di Johannesburg pada peluncuran laporan tahunan kelompok tentang keadaan hak asasi manusia di dunia. "Kami berada di tengah serangan yang disengaja terhadap infrastruktur sipil," katanya, menuduh Rusia mengubah koridor kemanusiaan menjadi jebakan maut.
"Kami melihat hal yang sama (di Ukraina), seperti yang dilakukan Rusia di Suriah," sambungnya.
Pendiri Yandex Arkady Volozh Kecam Invasi Rusia ke Ukraina
Pemimpin Kristen Ortodoks Ukraina Jadi Tahanan Rumah karena Dukung Invasi Rusia
Presdien Putin Sebut Perang sebagai Pertempuran untuk Kelangsungan Hidup Rusia
Direktur Amnesty di Eropa Timur dan Asia Marie Struthers sependapat, mengatakan pada pengarahan terpisah di Paris, para peneliti di Ukraina telah mendokumentasikan penggunaan taktik yang sama seperti di Suriah dan Chechnya, termasuk serangan terhadap warga sipil dan penggunaan senjata yang dilarang berdasarkan hukum internasional.
Membandingkan kota Mariupol yang terkepung dengan kota Aleppo di Suriah, yang dihancurkan oleh Presiden Bashar al-Assad dengan bantuan kekuatan udara Rusia, Callamard mengatakan, "pengamatan kelompok pelobi hak pada saat ini, adalah peningkatan kejahatan perang," katanya.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) pekan lalu mengatakan bahwa informasi publik dan intelijen yang dikumpulkannya merupakan bukti kuat bahwa militer Rusia telah melakukan kejahatan perang di Ukraina.
Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada AFP pada hari Senin bahwa sekitar 5.000 orang telah dimakamkan di Mariupol saja.
Rusia adalah pendukung utama pemerintah Suriah dalam perang yang meletus pada Maret 2011.
Callamard menyalahkan keangkuhan Rusia pada sistem internasional yang lumpuh dan kelambanan yang memalukan dari lembaga-lembaga termasuk Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Dewan Keamanan PBB akan lebih tepat disebut Dewan Ketidakamanan PBB," katanya, seraya menambahkan bahwa pihaknya telah berulang kali gagal bertindak "secara memadai dalam menghadapi kekejaman" di tempat-tempat seperti Myanmar, Afghanistan, dan Suriah.