Kamis, 24/02/2022 08:52 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, sebagai negara besar dengan jumlah penduduk 273 juta jiwa, Indonesia tidak boleh keenakan bergantung pada impor, seperti komoditas kedelai.
"Ini karena kita impor-impor, kedelai besoal. Keenakan kita (impor, Red)," kata Syahrul saat memberikan pengarahan sekaligus membuka secara vitual Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh di PPMKP, Ciawi, Bogor, Rabu (23/2).
Syahrul mengatakan, Indonesia bisa saja tidak tergantung pada komoditas yang diimpor selama ini jika dipaksakan. "Tapi, setiap kita paksakan keran impor juga dibuka dan membabat harga yang ada di dalam negeri," kata Syahrul.
Disebutkan Syahrul bahwa selama ini petani lebih memilih menanam jagung karena produktivitasnya tinggi yaitu 5 ton per hektare dibandingkan menanam kedelai yang produktivitanya hanya 1-1,5 ton per hektare.
KPK Panggil Anak Eks Mentan SYL Terkait Kasus TPPU
KPK Segera Tindaklanjuti Penerimaan Jam Tangan Mewah Sudin
KPK Dalami Dugaan Anggota DPR Sudin Terima Uang Korupsi SYL
Di samping itu, harga kedelai dalam negeri terbilang lebih mahal dibandingkan dengan yang dimpor. "Karena katakanlah harga kedelai di luar negeri Rp 5.500, petani kalau disuruh nanam kedelai baru bisa untung kalo di atas Rp 6500-7000," ujarnya.
Mantan gubernur Sulawesi Selatan itu mengingatkan bahwa komoditas kedelai di zaman Presiden Soeharto pernah swasembada karena disubsidi sama dengan harga beras. "Berapa harga beras begitu harga kedelai," kedelai.
Syahrul juga meminta para importir kedelai agar sekali-kali berkoban untuk bangsa dengan menjual kedelainya dengan harga seperti yang dibeli di negara produsen.
"Sudah 15 tahun importasi seperti ini. Masa satu tahun kondisi yang ada tidak bisa ada pengerbanan sedikit pun. Kalau saya punya kewenangan saya berhentikan dia untuk bisa impor kalau tidak bantu tahu tempe dalam waktu singkat ini," tegas Syahrul.