IMF: Terlalu Dini Mengatakan Dunia Hadapi Inflasi Berkelanjutan

Jum'at, 04/02/2022 07:18 WIB

WASHINGTON, Jurnas.com - Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, terlalu dini mengatakan dunia menghadapi periode inflasi yang berkelanjutan. Namun, ia memperingatkan, kegagalan membuat ekonomi lebih tahan terhadap goncangan masa depan dapat menyebabkan masalah besar.

Direktur pelaksana IMF, Kristalina Georgieva mengatakan, pembuat kebijakan global perlu secara hati-hati mengkalibrasi kebijakan fiskal dan moneter pada 2022 untuk memastikan, penarikan dana dukungan COVID-19 secara luas dan kenaikan suku bunga tidak merusak pemulihan.

Pekan lalu, IMF memangkas perkiraan ekonominya untuk Amerika Serikat (AS), China dan ekonomi global, dan mengatakan ketidakpastian tentang pandemi, inflasi, gangguan pasokan dan pengetatan moneter AS menimbulkan risiko lebih lanjut.

"Tidak seperti tahun pertama pandemi pada 2020, ketika menteri keuangan dan gubernur bank sentral mengoordinasikan dan menyinkronkan tindakan mereka, keadaan sekarang sangat bervariasi di seluruh dunia, dan itu membutuhkan lebih banyak kekhususaN dalam tanggapan," katanya.

Georgieva mengatakan, pandemi COVID-19 tetap menjadi risiko terbesar yang dihadapi ekonomi global dan sangat penting meningkatkan upaya untuk meningkatkan tingkat vaksinasi di negara-negara berpenghasilan rendah, dan memenuhi target global untuk memvaksinasi 70 persen orang di negara-negara di seluruh dunia pada pertengahan 2022.

Ia menyebut inflasi telah berlangsung lebih lama dan meningkat lebih tinggi dari yang diharapkan, karena gangguan rantai pasokan, permintaan barang konsumen yang lebih kuat dari perkiraan, dan guncangan iklim pada harga pangan.

Ditanya apakah keadaan itu, dan meningkatnya krisis antara Rusia dan Barat atas Ukraina, dapat mengantarkan era inflasi berkelanjutan, Georgieva mengatakan: "Jawaban singkatnya adalah, terlalu dini untuk mengatakannya. Apa yang bisa kita antisipasi adalah dunia yang lebih rentan goncangan."

Ia mengatakan, upaya sekarang berinvestasi lebih banyak dalam ketahanan manusia, ekonomi dan lingkungan akan membantu menciptakan lebih banyak peluang untuk pertumbuhan pekerjaan dan kemakmuran yang lebih besar.

"Kegagalan melakukan investasi semacam itu akan menghasilkan pandangan yang lebih suram, yang akan menghasilkan lebih banyak peristiwa tak terduga yang tidak kami persiapkan," kata Georgieva. "Pembuat kebijakan juga tidak siap menghadapi lebih dari satu krisis pada satu waktu."

TERKINI
Delegasi Dunia Kagumi Kearifan Lokal di Lapas Bangli dan Bapas Karangasem 10 Ucapan Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika 2026 yang Penuh Makna 71 Tahun Konferensi Asia Afrika: Warisan Bandung di Tengah Dunia Bergejolak "Super-Venus", Planet Baru Enaiposha yang Bikin Ilmuwan Bingung