Kamis, 03/02/2022 12:49 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2022 tercatat sebesar 108,67 atau naik 0,3 persen dibanding bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa petani menikmati keuntungan dari hasil produksinya.
Hal itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (3/2). “Kenaikan NTP menunjukkan bahwa petani bisa menikmati keuntungan dari hasil produksi mereka,” kata Menko Airlangga.
Airlangga menyebutkan subsektor yang mengalami peningkatan tertinggi yakni NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,98 persen terutama disebabkan dari peningkatan harga gabah. Harga gabah petani meningkat sebesar 4,96 persen (mtm) yang mendorong peningkatan harga beras ditingkat penggilingan maupun eceran.
Kemudian diikuti oleh NTP Subsektor Peternakan yang meningkat sebesar 0,43 persen dan berada pada level 100,19 didorong utamanya dari peningkatan harga ayam ras pedaging.
20 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini
Liam Delap: Chelsea Tak Pantas Kalah dari Manchester United
Caicedo: Chesea Belum Menyerah Kejar Tiket Liga Champions
NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) yang tercatat sebesar 131,81 juga terus mengalami peningkatan sejak Juli 2020 dengan pendorong utama masih dari kenaikan harga kelapa sawit.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan NTP pada Januari disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal.
Pada Januari 2022 Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,81 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,50 persen. Beberapa harga komoditas yang mempengaruhi peningkatan indeks yang diterima petani yaitu gabah, kelapa sawit, ayam ras dan kopi.