BKKBN: Stunting Masih Jadi PR Menuju Indonesia Emas 2045

Senin, 31/01/2022 15:20 WIB

JAKARTA, Jurnas.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan, sumber daya manusia (SDM) masih menghadapi persoalan stunting menuju Indonesia Emas di tahun 2045.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBNRizal M.Damanik saat menjadi pembicara pada webinar Peran Protein Hewani Mewujudkan Generasi Emas, yang digelar Majalah Agrina secara virtual, Senin (31/1).

Rizal menjelaskan, pengembangan kualitas SDM menjadi fokus Presiden Joko Widodo (Jokowi ) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, selain pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi, penyederhanaan birokrasi, dan transformasi ekonomi.

"SDM ke depan harus mampu berkompetensi secara global. Untuk itu, Indonesia membutuhkan SDM yang kritis, kereatif, komunikatif, dan kolaboratif," kata Rizal.

Di sisi lain, kata Rizal, Indonesia saat ini masih menghadapi masalah stunting, yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis. Ganguan ini berdampak pada seluruh organ tubuh.

"Stunting ini gangguan tumbang (tumbuh kembang) akibat kekurangan gizi kronis. Saya ingin tekankan bahwa gangguan ini adalah gangguan kepada seluruh organ tubuh, tidak hanya soal tinggi badan," jelas Rizal.

Menurut Rizal, stunting esensinya mengganggu seluruh pertumbuhan dan perekmngan organ Anak di Bawah Lima Tahun (Balita). "Maslah stunting itu adalah mereka itu (mohon maaf) tidak langsung mati, mereka hidup dengan segala kekurangannya," ujarnya.

Rizal menjelaskan, Indonesia saat ini berada di peringkat keempat negara berpenduduk terbanyak di dunia dengan jumlah 237 juta jiwa setelah Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India.

"Apalah artinya jumlah yang besar tanpa kualitas. Tentunya SDM yang banyak dengan kualitas yang ini yang kita diharapkan. Namun, SDM yang banyak tetapi tidak berkualitas ini akan menyebabkan satu kendala tersendiri bagi negara," tegas Rizal.

Berdasarka hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka stunting secara nasional mengalami penurunan sebesar 1,6 persen per tahun dari 27,7 persen 2019 menjadi 24,4 persen 2021. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan yang dianjurkan WHO yaitu 20 persen.

Berdasarkan SSGI 2021, hanya ada 15 provinsi yang berada di bawah prevalensi nasional, selebihnya seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Barat, dan Aceh masih sangat tinggi.

Rizal mengaku prihatin Indonesia, yang dikenal dengan gemah ripah loh jinawi dan menerima 365 paparan sinar matahari sepanjang tahun harus menerima kenyataan pahit ini.

"Tidak seperti negara empat musim yang hanya menerima sinar matahari 3 bulan saja. Indonesia hanya dua musim harus menerima kenyataan pahit ini. Karena dengan dua musim ini membuat Indonesia menjadi negara nomor dua terkaya dari segi diversifikasi flora dan fauna," ujarnya.

TERKINI
Hari Konsumen Nasional Diperingati 20 April, Ini Sejarah hingga Tujuannya 20 April 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini Liam Delap: Chelsea Tak Pantas Kalah dari Manchester United Caicedo: Chesea Belum Menyerah Kejar Tiket Liga Champions