Kepala BKKBN Ingatkan Target Prevalensi Stunting 14 Persen Sisa 2,5 Tahun

Selasa, 14/12/2021 18:31 WIB

JAKARTA, Jurnas.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berenca Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengingatkan bahwa target penuruan stunting menjadi 14 persen di tahun 2024 sisa 2,5 tahun.

"Ada satu hal yang perlu saya sampaikan di sini bahwa untuk mencapai target penuruan stunting 14 persen di tahun 2024 waktunya tinggal 2,5 tahun," kata Hasto usai penandatanganan Kesepahaman Bersama dengan PT Nestlé Indonesia di Kantor BKKBN, Selasa (14/12).

Hasto menjelaskan, Balita atau Baduta yang akan dievaluasi sebagai balita stunting dan tidak stunting di pertahanan tahun 2024 adalah mereka yang lahir di pertengahan Juli 2019 sampai yang lahir di akhir Juli tahun 2024.

"Sehingga sekarang ini betul-betul titik tengah, kira kira 2,5 tahun ke depan dan 2,5 tahun ke belakangan sehingga kalau satu tahun itu bisa melahirkan bayi 4,8 juta berarti kalau 2,5 tahun ya kira-kira mendekati 12 juta," jelas Hasto.

"Bayi 12 juta harus kita urus jangan sampai ada yang stunting. Kalau toh ada stunting 14 persen persen aja. Kemudian 12 juta lagi adalah bayi yang baru akan lahir harus kita cegah supaya tidak stunting," sambung dia.

Hasto memperkirakan, total Balita di tahun 2024 sekitar 23 juta. Untuk mencapai angka 14 persen di tahun 2024, maka yang stunting tidak boleh lebih dari 3000 ribu.

Hasto mengatakan, salah satu faktor penyebab bayi terlahir stunting, yang sangat nyata di depan mata adalah populasi remaja putri anemia sekitar 36-37 persen, dan ibu hamil yang anemia mencapai 48 persen.

"Saya percaya kalau faktor-faktor ini tekoreksi dengan baik, kita tuh berani mengatakan bahwa meskipun masih miskin bisalah melahirkan anak yang tidak stunting. Asalkan kita bisa menginkubasi atau kita kendalikan proses reproduksinya," tegas Hasto.

"Kita paksa untuk melahirkan bayi yang sehat meskipun lingkungannya belum begitu sehat. Itulah untuk menerjemahkan target Bapak Presiden tidak kata lain kecuali memaksa orang-orang yang lingkungannya belum baik pun harus mendapatkan asupan yang baik," kata Hasto.

"Itulah pentingnya meyakinkan atau betul betul mengawal mereka yang mau nikah, mereka yang hamil, mereka sedan interval, dan menyusui harus sehat dan kecukupan gizinya harus sampai pada mulut bayi dan ibunya," kata dia.

Hasto berharap, ke depan ada inovasi yang mengawinkan antara produk lokal kemudian dikomplemen dengan produk yang bukan lokal untuk mengatasi masalah stunting.

"Anak itu pasti membutuhkan asupan yang tidak semua ada di lokal, tapi mayoritas ada di lokal, seperti ikan, telur, dan sayur. Tapi mau tau mau harus ada penyempurna entah itu mikronutrien yang tidak dilokal," kata dia.

Karena itu, Hasto mengatakan, kehadiran Nestle Indonesia merupakan inovasi dan terobosan yang harus dilakukan bersama sama BKKBN

"Apakah nanti  komplemen suplemen yang dihasilkan Nestle kemudian kita dengan cerdas bisa mengkawinkan dengan produk lokal sehingga ini mengatasi masalah tanpa masalah. Kemudian kita hasilkan produk baru sebagai yang tidak pernah diangka sebelumnya," ujarnya.

Presiden Direktur PT Nestle Indonesia, Ganesan Ampalavanar mengatakan, menyambut baik kerja sama dengan BKKBN dalam upaya penurunan stunting melalui kesepakatan bersama, yang meliputi upaya pemberian edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat berupa edukasi gizi, tumbuh kembang, dan fortifikasi pangan.

Selain itu, program ini juga mencakup kegiatan peningkatan efektivitas dan kompetensi dasar sumber daya manusia terkait gizi dan tumbuh kembang anak untuk membantu peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan anak melalui kegiatan pendampingan.

"Kami berharap kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dan mendukung anak Indonesia tumbuh sehat dan optimal sebagai pemimpin generasi berikut," kata Ampalavanar.

TERKINI
Apa Itu Super El Nino? Ini Prediksi Terbaru dan Dampaknya ke Dunia Lima Air Rebusan yang Ampuh Hancurkan Lemak Perut Ini Hobi yang Sangat Dilarang dalam Agama Islam, Apa Saja? Wamensos: Perpustakaan Sekolah Rakyat Harus Dorong Siswa Gemar Membaca