Dananjoyo Kusumo / Jurnal Nasional
Pedagang sedang menunjukkan kedelai impor AS. Kenaikan harga kedelai hanya menguntungkan petani AS saja.
Jurnas.com | WAKIL Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, menyindir harga kedelai yang juga tidak turun padahal kebijakan bea masuk importasi kedelai sudah diturunkan hingga 0 persen. "Sesuai dengan data Badan Pusat Statistik pekan ini harga malah mencapai hampir Rp9.000," katanya dalam sebuah diskusi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/8).
Menurutnya ini sudah sangat tinggi dibanding harga pertengahan Juli yang mencapai Rp6.700 dan Rp8.100 belakangan ini. Dia mengatakan pihaknya tidak bisa menerima perilaku pelaku impor yang tak kunjung menurunkan harga. "Saya gregetan bea masuk tidak berbanding lurus, kalau begitu diaktifkan saja lagi BM 5% tersebut," kata dia.
Dia mengatakan saat ini yang masih diselidiki pihak terkait adalah begitu cepatnya harga naik saat produksi kedelai di Amerika Serikat baru saja turun. "Jangan-jangan BM 0 persen, kedelai sudah menunggu di pelabuhan," katanya bernada kecewa.
Walaupun begitu kata dia, pihaknya menyerahkan sepenuhnya masalah harga ini kepada KPPU yang sebelumnya melihat indikasi kartel dalam memainkan harga kedelai di pasar Indonesia.
Menurutnya yang paling diuntungkan dalam kejadian ini adalah petani kedelai di AS. "Pertama oleh subsidi ekspor negaranya dan kedua oleh bantuan bea masuk 0 persen oleh Pemerintah Indonesia," katanya. Dia berharap ada kesepakatan harga antara perajin tempe dan tahu dengan petani kedelai sehingga harga menjadi stabil dan menguntungkan semua pihak. "Kebijakan apapun yang diambil pemerintah, tidak akan bisa memuaskan semua pihak," katanya.
Menurutnya, bagi petani, kepastian harga yang menguntungkan merupakan faktor utama yang mendorong mereka menanam komoditas kedelai tanpa harus dikampanyekan untuk menanamnya. Dia juga menjelaskan, pemerintah akan menciptakan kedaulatan pangan dalam komoditas kedelai at all cost sebagaimana diperintahkan oleh Presiden baru-baru ini. "Bagaimanapun mahalnya produksi itu, biarpun kelihatan tidak efisien, karena harga impor lebih murah," katanya. Menurutnya, usaha awalnya adalah perluasan lahan dan penggunaan varietas unggul.
Dalam hal Bulog yang diproyeksikan menjadi stabilisator harga pangan kedelai, dia mengatakan dirinya akan berbicara langsung ke Dubes AS agar Bulog, kalaupun harus impor, dapat mengimpor langsung dari AS mengingat mudahnya mendapat jaringan impor dari sana. "Saya tidak ingin Bulog menjadi penyangga komoditas kedelai, yang kedelainya diambil dari importir yang sekarang juga. Kalau bisa, Bulog harus impor langsung dari produsennya," katanya.