PAUL HILTON / AFP
Relawan sedang membawa orangutan.
Jurnas.com | ASIA Pulp & Paper (APP) menggandeng Orangutan Foundation International (OFI) bagi upaya penyelamatan primata orangutan (Pongo pygmaeus) di Kalimantan.
Salah satu bentuk kerja sama itu adalah melakukan pelatihan konservasi orangutan bagi para karyawan APP dan perusahaan pemasok kayu pulpnya di lahan konsesi mereka di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.
Pelatihan tahap pertama yang digelar di Pangkalan Bun dan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah berlangsung sejak 23-28 Juli diikuti 20 peserta. Mereka merupakan karyawan dari dua perusahaan pemasok kayu pulp APP, masing-masing PT Surya Hutani Jaya dan PT Sumalindo Hutani Jaya.
Menurut Andy Herwanto, Project Office Pelatihan Konservasi Orangutan APP, pihaknya akan melakukan pelatihan semacam ini dalam kurun 12 bulan ke depan dengan target 300 karyawan APP dan perusahaan pemasok kayu pulp. “Tahap pertama ini karyawan yang ikut pelatihan adalah dari level pengawas lapangan dan supervisor. Mereka akan menjadi mentor bagi karyawan lainnya dalam upaya penyelamatan orangutan,” kata Andy saat mendampingi peserta pelatihan melakukan field trip ke Taman Nasional Tanjung Puting, Kamis (26/7).
APP, kata Andy, merasa perlu untuk menggelar pelatihan semacam ini karena areal lahan hutan tanaman industri (HTI) yang mereka miliki seluas 150 ribu hektare kerap dimasuki orangutan. “Orangutan acap masuk ke areal HTI kami karena primata itu diusir oleh pengelola perkebunan kelapa sawit yang bersebelahan dengan kami. Ini membuat kami merasa perlu menggelar pelatihan agar para karyawan kami mengetahui cara memperlakukan orangutan sebagai primata dillindungi. Kami pun sudah menyisihkan 22 ribu ha lahan untuk konservasi orangutan dari keseluruhan lahan yang kami miliki,” kata Andy.
Ia juga menjelaskan, total lahan konservasi itu melampaui ketentuan Kementerian Kehutanan yang meminta setiap perusahaan pengelola HTI untuk menyisihkan 10 persen dari total lahannya bagi konservasi. “Kami juga berharap bisa membangun koridor konservasi yang menuju Taman Nasional Kutai,” kata Andy.
Sementara itu President OFI, Birute Mary Galdikas menyambut baik pelatihan penyelamatan dan konservasi orangutan yang dilakukan APP dan melibatkan perusahaan pemasok kayu pulpnya.
Menurut Galdikas yang telah 41 tahun melakukan penelitian orangutan di Tanjung Puting, apa yang dilakukan APP belum terlambat. “Saya salut dengan kesadaran yang dibangun oleh APP untuk ikut menyelamatkan orangutan. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ini adalah primata asli Indonesia dan harus dilindungi dari kepunahan. Saya harapkan kelestarian orangutan bisa dipertahankan, termasuk melibatkan perusahaan-perusahaan pemilik konsesi lahan hutan industri untuk konservasinya,” kata penerima Kalpataru ini.