SAUL LOEB / AFP
Kedua pemimpin sepakat melanjutkan pembahasan bagi tercapainya penyelesaian.
Jurnas.com | PRESIDEN AS Barack Obama dan timpalannya dari Rusia, Vladimir Putin, Rabu (18/7), mengakui, mereka berbeda pendapat tentang Suriah. Menurut Gedung Putih, kedua pemimpin sepakat melanjutkan pembahasan bagi tercapainya penyelesaian.
Di dalam pembicaraan melalui telepon, kedua presiden itu membahas "situasi yang berkembang" dan "kerusuhan yang meningkat" di negara Arab tersebut. "Mereka sepakat mengenai perlunya mendukung peralihan politik sesegera mungkin yang mencapai sasaran bersama kami tentang diakhirnya kerusuhan dan dihindarinya memburuknya situasi", kata Gedung Putih.
Mereka mengakui perbedaan soal Suriah. Tapi sepakat mengizimkan tim mereka terus berusaha mencapai penyelesaian," kata Gedung Putih.
Akibat perbedaan yang "menggantung" mengenai pendekatan bagi krisis 16-bulan di Suriah, Dewan Keamanan PBB memutuskan menunda pemungutan suara, sampai Kamis ini, yang mulanya dijadwalkan Rabu. Pemungutan suara terkait rancangan resolusi mengenai Suriah.
Rancangan resolusi diusulkan Prancis, Jerman, Portugal, Inggris dan Amerika Serikat. Isinya memperpanjang Misi Pengawasan PBB di Suriah (UNSMIS) selama 45 hari dan mengancam sanksi nonmiliter jika Suriah tak mematuhi penarikan senjata berat dan tentara pemerintah dari daerah permukiman dalam waktu 10 hari.
Sementara itu Rusia, di dalam versi rancangannya sendiri yang diajukan ke Dewan Keamanan, meminta perpanjangan mandat UNSMIS selama tiga bulan lagi, mengurangi jumlah pengamat militer dan meminta operasi lebih condong pada misi politik. Moskow menentang setiap ancaman sanksi terhadap Suriah. Antara/Xinhua-OANA