Medica / Tidur sehat
Gangguan tidur berpengaruh pada gangguan kesehatan umum seseorang.
Jurnas.com | FAKTA baru menyebutkan bahwa gangguan tidur seperti mendengkur ternyata dapat memicu penyakit kanker. Banyak penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa gangguan tidur berpengaruh pada gangguan kesehatan umum seseorang.
Spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) RS Premier Bintaro Ari Cahyono mengatakan, sebagian orang menganggap mendengkur saat tidur adalah hal umum yang terjadi sebagai tanda tidur lelap. Padahal sebuah fakta baru menyebutkan mendengkur bisa memicu sel kanker.
“Sebagai contoh, ada salah satu gangguan tidur yang disebut Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau tidur yang disertai periode henti napas. Gangguan ini dalam jangka panjang meningkatkan resiko hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke,” kata Ari Cahyono di Jakarta, (31/5).
Sementara itu, dalam sebuah penelitian yang dilakukan Sleep Center di Wisconsin Amerika Serikat selama 22 tahun terhadap 1500 subjek, menyebutkan penderita yang mengalami gangguan tidur OSA ternyata lima kali berisiko lebih tinggi terkena kanker.
“Seseorang yang sudah menderita kanker, pertumbuhan sel kankernya akan lebih cepat jika penderitanya sedang mengalami OSA berat,” kata dia.
Namun meski demikian ia menyebutkan memang belum ada penelitian lanjutan tentang korelasinya, tapi diduga pada pasien OSA ketika berhenti bernafas akan terjadi kekurangan oksigen yang menahun sehingga memicu pertumbuhan dan perubahan sel kanker tersebut.
Sel kanker kanker tersebut lanjut dia, membutuhkan oksigen tapi karena kekurangan oksigen dalam waktu lama dia akan membentuk pembuluh darah sendiri, kemudian selnya menjalar ke segala arah.
Masalahnya, seseorang mungkin tidak menyadari dirinya mengalami OSA karena merasa sepanjang malam tidurnya lelap. Maka dari itu diperlukan bagi seseorang untuk mengetahui kualitas tidurnya, apakah baik-baik saja atau ada gangguan.
“Sebab, selama ini gangguan tidur sering luput dari perhatian orang, salah satunya yang paling banyak dialami adalah mendengkur. Padahal mendengkur atau mengorok terjadi akibat penyempitan di saluran nafas, dan bisa menyebabkan gejala penyakit yang disebut OSA yakni sumbatan nafas pada saat tidur. Penderita OSA ini akan mengalami periode berhenti bernafas, dan di saat itulah ia kekurangan oksigen yang terjadi berulang-ulang,” katanya.
Spesialis THT Lanny Tanudjaya menyarankan bagi seseorang yang mengalami gangguan tidur ada baiknya mengetahui penyebab tersebut. Menurutnya, sleep clinic merupakan fasilitas khusus untuk mempelajari gangguan saat tidur. Di sleep clinic ini akan dilakukan pemantauan tidur di malam hari, dengan memasang alat pendeteksi gangguan tidur, seperti detector untuk merekam aktivitas listrik otak, mata, otot dagu, jantung.
“Dokter akan menganalisa seluruh hasil pemeriksaan untuk menentukan kualitas tidur pasien maupun jenis gangguan tidur yang dialaminya. Ini menjadi dasar penentuan terapi jika pasien mengalami gangguan tidur apakah perlu operasi bedah mulut, pemakaian alat bantu tertentu, atau sekedar modifikasi gaya hidup,” kata dia.
Lanny juga menjelaskan bahwa, sebenarnya juga ada tips sederhana untuk mengurangi dengkur, antara lain jangan bekerja terlalu keras, bersihkan saluran nafas terutama rongga hidung sebelum pergi tidur. Kemudian, tidur dengan posisi miring dan letakan kepala lebih tinggi, ganjal dengan bantal atau tangan untuk memperlancar jalannya nafas.
“Hentikan kebiasaan merokok, alkohol, kurangi kelebihan berat badan dan hindari makanan berlemak sebelum tidur,” katanya.