Dananjoyo Kusumo / Jurnal Nasional
Pemerintah Belanda berada di ambang kejatuhan setelah gagal menyepakati pemangkasan anggaran.
Jurnas.com | NILAI tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta, Selasa pagi belum bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp9.170 per dolar AS. "Merebaknya kekhawatiran krisis utang negara-negara euro dapat menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar berisiko terhadap dolar AS," kata analis dari Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Selasa (24/4).
Ia menambahkan, di tengah memburuknya prospek ekonomi dan meningkatnya ketidakpastian politik. Pemerintah Belanda berada di ambang kejatuhan setelah gagal menyepakati pemangkasan anggaran, sedangkan yield obligasi Italia melonjak seperti halnya yield Prancis. "Ketidakpastian politik, terutama yang terjadi di Belanda dan Prancis, telah mendatangkan tekanan kuat bagi nilai tukar berisiko termasuk rupiah," katanya.
Ia mengatakan, nilai tukar euro juga tertekan oleh data yang menunjukkan manufaktur Jerman secara tak terduga merosot dengan laju tercepat dalam hampir tiga tahun pada April.
Sementara, analis pasar uang Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih mengatakan, kemelut politik terjadi mengikuti krisis ekonomi, terutama karena pemerintah berkuasa tidak lagi dapat membuat kebijakan yang populis. "Pergantian kepemimpinan ini dikhawatirkan mengganggu penyelesaian krisis utang dari UE," katanya.
Dari dalam negeri, lanjut dia, sidang kabinet yang rencananya hari ini diperkirakan akan mengambil keputusan mengenai kebijakan BBM. "Keraguan pemerintah dengan kebijakan BBM ini dapat membuat ekspektasi inflasi tetap tinggi dan penundaan kenaikan peringkat utang menjadi peringkat investasi dari S&P," katanya.
Terpantau hingga pukul 10.00 WIB, nilai tukar mata uang rupiah bergerak melemah 10 poin menjadi Rp9.180 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.170 per dolar AS. Antara