STAN HONDA / AFP
Musik merupakan warisan yang sangat komplit, hal mana para tawanan dipakasa untuk memainkannya.
Jurnas.com | SEPERTI banyak jiwa yang terkurung dalam kem-kem kematian, demikianlah ke-18 violin tersebut akan membangkitkan kenangan kelam masa lalu. Sebanyak 18 buah violin dari tragedi Holocaust kini dipajang di University of North Carolina, Charlotte: College of Art + Architectur, dengan tema “Violin Harapan”, Sabtu (14/4).
Pembuat Violin Israel, Amnon Weinstein, mengerjakan ini semua untuk mengenang kerabat dan sanak keluarganya yang hilang dalam tragedy Holocaust.
Misi utama dari pagelaran ini adalah menjelajahi kenangan-kenangan instrumen yang tak terkatakan, yang umumnya datang dari keluarga-keluaraga, sekaligus untuk memulihkan kondisi mereka.
Pembuat instrumen ini, Amnon Weinstein, untuk pertama kalinya membawa koleksi violin-violinnya dari Israel ke Amerika Serikat. Dalam sesi-sesi pertunjukkannya tersebut, Amnon juga akan memainkan violinnya.
Secara umum, banyak orang menyadari musik tersebut dari kamp-kamp kematian dan geto. Ketua pertunjukkan ini, Wendy Fishman, yang mana ibunya merupakan korban selamat dalam tragedi Holocaust, mengatakan, “Ibu saya tidak mempunyai ide bahwa musik menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari di kem-kem kematian.”
“Saya sama sekali tidak mengetahui hal ini. Saya sungguh ingin mendengarkan,” ujar ibunda Fishman di Yahoo News.
Pada masa itu, banyak kamp-kamp yang memperdengarkan alunan musik orkestra, seperti Theresienstadt, Dachau, dan Buchenwald. Sementara itu, di Auschwitz Birkenau, ada dua orang pemain orkestra, laki-laki dan perempuan.
“Orkestra biasanya dimainkan selama berjam-jam,” ujar Fishman. Menurutnya, musik ini biasa dimainkan pada saat para tawanan sedang bekerja atau berjalan.
Setelah perang, banyak pengungsi yang tidak ingin melakukan apa pun dengan instrumen itu. Padahal, hanya instrumen tersebut yang menjadi sisi lain dari warisan tragedi Holocaust.
Kepala musik di Museum Holocaust Memorial di Amerika Serikat, Bret Werb, melalui email mengatakan kepada Yahoo News, bahwa musik merupakan warisan yang sangat komplit, hal mana para tawanan dipakasa untuk memainkannya.
“Kadang-kadang musik orkestra mengiringi ‘proses eksekusi di dalam lemari kaca,’ para tawanan yang baru tiba dibawa ke kem-kem, dan menurut beberapa akun, juga mengiringi ‘proses eleksi’ untuk tawanan-tawanan baru,” ujar Bret Werb.
Namun Fisherman mengatakan bahwa arti dari ke-18 violin tersebut juga berbicara mengenai para pemainnya. Ia mengatakan, “Warisan ini berada dalam dua sisi, ia menghapus kenangan namun sekaligus mengembalikan hidup ke dalam jiwa-jiwa, terhadap mereka yang tidak mampu mengatakan apa pun dan terhadap mereka yang terbunuh.”
“Para pemainnya tidak sepenuhnya pergi. Mereka tetap bergema di dalam intrumen-instrumen ini,” ujar Fishman. Yahoonews.