Sooam Biotech Research / AFP
Gajah india akan digunakan dalam penelitian. Inti sel telur gajah akan diganti dengan sel-sel somatik, embrio, dan DNA mammoth
Jurnas.com | ILMUWAN Rusia dan Korea Selatan sepakat melakukan penelitian bersama untuk menghidupkan kembali hewan purba raksasa, mammoth, yang sudah punah sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh wakil rektor North-Eastern Federal University, Vasily Vasilev, dan pelopor kloning kontoversial, Hwang Woo Suk, dari Sooam Biotech Research Foundation.
Hwang Woo Suk terkenal saat ia berhasil mengkloning anjing pada tahun 2005. Anjing hasil kloning tersebut diberi nama Snuppy dan merupakan kloning anjing pertama di dunia. Pada tahun 2006, Woo Suk menggebrak dengan hasil temuannya yang berhasil menciptakan sel induk manusia. Tapi, sayangnya temuan tersebut terbukti palsu belaka.
Manurut salah satu peneliti di Sooam, Hwan In Sung, misi pertama dan paling sulit dalam proyek kloning kali ini adalah mengembalikan sel-sel raksasa. Ia mengatakan, ini akan menjadi pekerjaan sulit, tapi percaya kloning ini akan berhasil karena Sooam merupakan yang terbaik dalam kloning hewan.
Sooam akan memulai penelitian di tahun ini, jika universitas rusia tersebut bisa mengirimkan sisa-sisa fosil mammoth. Yayasan korea selatan tersebut juga mengatakan akan mentransfer teknologi ke Rusia, setelah sebelumnya telah terlibat dalam penelitian bersama dengan Jepang untuk menghidupkan mammoth.
Selain dua institusi tersebut, Beijing Geonomics Institute juga akan mengambil bagian dalam proyek kloning ini. Nantinya, gajah india akan digunakan dalam penelitian. Inti sel telur gajah akan diganti dengan sel-sel somatik, embrio, dan DNA mammoth. Sel-sel somatik ini berupa sel-sel tubuh seperti organ dalam, kulit, tulang, dan darah. Setelah itu, sel telur tersebut akan ditanam di dalam embrio gajah India.
Peneliti Korea Selatan sebelumnya telah berhasil mengkloning hewan seperti sapi, kucing, anjing, babi, dan serigala.
AFP