Desmunyoto P. Gunadi / Jurnal Nasional
DOTS sangat penting untuk penanggulangan TB selama lebih dari satu dekade.
Jurnas.com | PENYAKIT menular Tuberkulosis (TB) menjadi perhatian dunia. Saat ini dunia sangat fokus dengan TB. Di Indonesia, strategi nasional pengendalian TB telah sejalan dengan petunjuk internasional (WHO DOTS/ Directly Observed Treatment Shortcourse dan strategi baru Stop TB). Serta konsisten dengan Rencana Global Penanggulangan TB yang diarahkan untuk mencapai Target Global TB 2005 dan Tujuan Pembangunan Milenium 2015.
“DOTS sangat penting untuk penanggulangan TB selama lebih dari satu dekade, dan tetap menjadi komponen utama dalam strategi penanggulangan TB yang terus diperluas, termasuk pengelolaan kasus kekebalan obat anti TB, TB terkait HIV, penguatan sistem kesehatan, keterlibatan seluruh penyedia layanan kesehatan dan masyarakat, serta promosi penelitian,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, (12/3).
Spesialis Paru dari RS Persahabatan, Erlina Burhan menjelaskan WHO memperkirakan
sepertiga penduduk dunia terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, dan pada tahun 2009 diperkirakan terdapat 9,27 juta kasus baru Tuberkulosis di seluruh dunia.
Di Indonesia, diperkirakan terdapat 528 000 kasus baru TB per tahun. TB juga menduduki peringkat 3 dari 10 penyebab kematian yang menyebabkan 146 000 kematian setiap tahun (10% persen mortalitas total).
“Program TB yang berkinerja baik memastikan rejimen yang adekuat, suplai obat yang berkualitas dan tidak terputus serta pengawasan menelan obat yang berorientasi kepada pasien akan meningkatkan case-holding,” kata dia.
Menurutnya, suatu standard mutu penanganan yang baik sesuai Internasional Standard for
Tuberculosis Care (ISTC) sangat penting untuk menyembuhkan penderita TB, mencegah penularan penyakit kepada anggota keluarga dan kontak serta menjaga kesehatan masyarakat pada umumnya.
“Penanganan yang substandard (di bawah standard) akan berakibat kegagalan pengobatan, transmisi kuman TB berkelanjutan kepada anggota serta menimbulkan resistensi obat atau dikenal dengan kasus Multi Drug Resistance Tuberculosis (TB-MDR),” kata Erlina.
Namun saat ini yang jadi masalah dalam penanganan TB di Indonesia adalah sebagian besar dokter praktik swasta (DPS), bahkan sebagian RS pemerintah belum tersentuh oleh program penanganan TB Nasional yang menggunakan strategi DOTS.