Desmunyoto P. Gunadi / Jurnal Nasional
Tenaga Kesehatan yang dikirim ke desa-desa terpencil tidak cukup mengatasi persoalan kematian ibu dan anak.
Jurnas.com | TENAGA Kesehatan yang dikirim ke desa-desa terpencil tidak cukup mengatasi persoalan kematian ibu dan anak. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan kepada masyarakat setempat untuk dijadikan kader kesehatan.
Spesialis Nutrisi dan Maternal Child Health World Vision Indonesia (WVI), Sigit Sulistyo mengatakan dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) tidak cukup hanya dengan mengirimkan tenaga kesehatan ke desa. Namun, perlu dibarengi dengan upaya memberdayakan, mendampingi, mendukung, dan menguatkan masyarakat lokal agar mampu menjadi kader dan pendidik bagi masyarakat lainnya di desa tersebut.
"Kader-kader ini bisa menjadi kader kesehatan dengan dilakukan pelatihan," kata Sigit Sulistyo, pada Diskusi Kesehatan bersama World Vision Indonesia, di Jakarta, Selasa, (31/1).
Menurut dia, tenaga kesehatan seperti dokter yang dikirim ke wilayah terpencil sifatnya hanya sementara. Selain bersifat sementara, para tenaga kesehatan tersebut juga jarang untuk mau ditempatkan di desa-desa terpencil dengan alasan masalah keamanan karena adanya sebuah konflik.
"Seperti di Papua, para dokter tidak ada yang mau ditempatkan di desa-desa. Mereka hanya mau ditempatkan di wilayah perkotaan/provinsi. Sementara, jarak desa dengan puskesmas sangat jauh," katanya.
Dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat yang dipilih oleh pendamping kesehatan untuk menjadi kader maka pelayanan dasar kesehatan masyarakat di wilayah terpencil dapat teratasi.