Jurnas.com | KLUB basket SM Britama terpaksa harus membagi kekuatan timnya musim ini karena harus turun di dua kompetisi, yakni kompetisi basket ASEAN atau ASEAN Basketball League (ABL) dan kompetisi basket nasional atau National Basketball League (NBL).
Dengan adanya aturan tidak diperbolehkannya pebasket turun di dua kompetisi yang bersamaan maka, SM memfokuskan para pemain seniornya tampil di NBL. "Masalah waktu yang membuat situasi ini terjadi. Karena kompetisi ABL yang akan digelar mulai Oktober hampir berbarengan dengan jadwal NBL yang digelar di Tanah Air mulai September nanti," kata Fictor Roring, pelatih SM Britama.
Diakui Fictor Roring situasi ini tidak mudah untuknya harus memilih. Di tengah niat klub asal Jakarta ini menjadi juara di dua kompetisi ini. "Semua ini memang tidak mudah, tapi kami harus merancang strategi untuk membagi dua tim. Karena kami mematok target menjadi yang terbaik, artinya nomor satu," kata Ito di sela-sela peluncuran seragam baru SM Britama di Jakarta, Rabu (28/7).
Dari kedua tim yang terbagi, sebagian besar pemain senior SM lebih banyak masuk dalam skuad NBL. Mereka di antaranya Rony Gunawan, Amin Prihantono, Youbel Soundakh, Achmad J Faisal, Wellyanson Situmorang, Christian Ronaldo Sitepu, Agung Sunarko, Galank Gunawan, Bonanza Sirega, Schiffo Julian Liogu, Firdaus J Achmad dan Vamiga Michel.
Untuk tim ABL diperkuat pemain yang baru dikontrak SM, yakni Mario Wuysang. Mantan guard Garuda Bandung ini dikontrak tiga tahun dengan barter Wendha Wijaya. Selain Mario, pebasket lainnya yakni Muhammad Firmansyah, Abdul Fatah dan Ryan Febrian serta lima pemain asing yang hingga kini belum ditentukan.
"Kalau pemain asing kita mengincar pebasket Filipina, sedangkan untuk pemain internasional kami mungkin masih menggunakan legion yang sama seperti tahun lalu," ucap Ito. Keputusan membagi dua tim ini tak sepenuhnya membuat pemain puas.
Amin bahkan mengaku sedikit kecewa karena merasa rugi tidak tampil di ajang internasional yang dapat mempertemukannya dengan pebasket dari negara lain. "Kita rugi tidak bisa tampil di kompetisi internasional. Terlebih tahun depan kita menghadapi SEA Games. Di kompetisi itu padahal kita bisa melihat tim-tim lain," jelas Amin.
Amin mengungkapkan, mereka dipaksa tidak bisa tampil di ABL karena masalah kontrak dengan sponsor. Pihak BRI sebagai sponsor utama SM tidak mengizinkan pemainnya tampil di ajang internasional jika ada kompetisi lokal. Sehingga mereka wajib tampil di NBL.
Kekecewaan yang sama diungkapkan Rony. "Sebagai pemain professional kami harus tetap mengikuti aturan. Tapi, saya yakin di NBL juga akan tersaji banyak tantangan,"Â ucapnya. Jika Amin dan Rony menelan kecewa, Firmansyah alis Bicek yang masuk dalam skuad ABL merasa bangga masuk dalam tim.
Dia mengaku dengan tampil di ajang internasional berharap menjadi jalan baginya untuk menembus tim nasional untuk SEA Games. "Bagi saya menguntungkan karena setingkat lebih tinggi dari NBL. Jam terbang juga jadi lebih banyak. Jadi bisa modal untuk SEA Games," jelasnya.