pencarian berita:
Jurnal Nasional - Selasa, 21 Mei 2013 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
RAPBN 2014 Targetkan Pertumbuhan 6,9 Persen
Jakarta  | Selasa, 21 Mei 2013
Wahyu Utomo

PERTUMBUHAN ekonomi 2014 ditargetkan berkisar 6,4 persen hingga 6,9 persen. Lebih rendah dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2010-2014 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 7,0 hingga 7,7 persen.

Demikian disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida S Alisjahbana saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal 2014 dalam Sidang Paripurna DPR di Jakarta, Senin (20/5).

Armida mengatakan laju pertumbuhan ekonomi global pada 2012 sebesar 3,2 persen lebih lambat dari periode sebelumnya. Pada 2013, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan meningkat menjadi 3,3 persen. Namun, perkiraan tersebut sudah direvisi ke bawah akibat gambaran ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Relatif lemahnya kondisi ekonomi global pada 2012 dan 2013 berimplikasi negatif bagi perkembangan ekonomi domestik. Pada 2012 lalu perekonomian domestik tertekan akibat kinerja perdagangan internasional. Tekanan pada ekspor menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi domestik melambat dari 6,5 persen pada 2011 menjadi 6,2 persen pada 2012. Hal yang sama diperkirakan terjadi pada 2013.

"Namun pemerintah sudah menyiapkan strategi kebijakan yang mendorong laju pertumbuhan ekonomi tetap tinggi di atas enam persen. Namun, dengan memerhatikan perkembangan yang terjadi, pemerintah harus melakukan penyesuaian terhadap outlook perekonomian, target, dan sasaran pembangunan ke depan yang lebih realistis, namun tetap menjaga komitmen mencapai kesejahteraan dan taraf kehidupan masyarakat Indonesia," kata Armida.

Dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut, inflasi ditargetkan sebesar 4,5 persen (1 persen), nilai tukar rupiah terhadap US$ yakni Rp9.600 sampai Rp9.800, rata-rata tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan sebesar 4,5 sampai 5,5 persen. Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) disepakati US$110 per barel, produksi minyak bumi (lifting) sebesar 915.000 barel per hari, dan lifting gas bumi 1.240 sampai 1.325 ribu barel per hari setara minyak.

Armida menambahkan substansi Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal 2014 juga memiliki nuansa yang lebih khusus karena merupakan tahun terakhir rencana pembangunan dalam RPJMN 2010-2014 sekaligus merefleksikan capaian kinerja pembangunan dalam lima tahun terakhir.

Asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014 juga berkaitan dengan proyeksi kondisi ekonomi Indonesia menjelang Pemilu 2014. "Bagaimanapun juga ada dampaknya, multiplyer effect (dampak pengganda) bagi perekonomian. Dari pengalaman, pemilu di tahun 2004 dan 2009 (meningkatkan pertumbuhan ekonomi) itu sekitar 0,15 sampai 0,2 percentage point," kata Armida.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan RAPBN 2014 menargetkan defisit anggaran 1,5 persen terhadap PDB atau Rp154,2 triliun, jauh lebih rendah dari target defisit RAPBN-P 2013 yang sebesar 2,48 persen.

Dari catatan Kemenkeu, defisit tersebut didapat dari target total pendapatan negara sebesar Rp1.749,9 triliun dan belanja negara sebesar Rp1.904,1 triliun. Jika pemerintah jadi menaikkan harga BBM bersubsidi, Bambang mengatakan, subsidi energi pada 2014 akan lebih seimbang. "Kebijakan untuk mengendalikan subsidi (BBM) memang sangat diperlukan," ujar Bambang.

Selanjutnya, Wakil Ketua DPR Sohibul Iman sebagai pimpinan sidang memutuskan akan mendengar pandangan fraksi-fraksi atas keterangan pemerintah mengenai pokok-pokok RAPBN 2014 pada rapat paripurna DPR RI 23 Mei 2013 mendatang. n Roswita

close
Jakarta

Volume gas yang akan dipasok ke dalam negeri belum ditetapkan.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana