pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 21 Februari 2013 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Penetapan HPP Kedelai Bisa Genjot Produksi
Jakarta  | Kamis, 21 Februari 2013
Wahyu Utomo

KEMENTERIAN Perdagangan (Kemendag) berharap agar implementasi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) kedelai yang direncanakan dalam waktu dekat mampu menggenjot angka produksi di dalam negeri yang selama ini masih relatif rendah. Seperti diketahui, pemerintah tengah berupaya mengatur tata niaga kedelai melalui program stabilisasi harga kedelai harga beli di tingkat petani dan para perajin tahu tempe, sehingga pada akhirnya mampu mendukung kelangsungan industri tahu tempe ke depannya.

"Ini semangatnya agar tidak terjadi gejolak harga di lapangan karena banyak pemangku kepentingan yang terlibat di sini, seperti pengusaha, petani, dan konsumen. Kalau satu variabel goyang, maka akan berdampak seluruhnya, jadi tidak boleh ada yang dikorbankan. Ujung-ujungnya tentu peningkatan produksi kedelai," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan di sela kunjungannya ke Koperasi Perajin Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) di Semanan Kalideres, Jakarta, Rabu (20/2).

Gita mengatakan jika hingga kini masih menunggu terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Tata Niaga Kedelai sebagai payung aturan Permendag-nya yang segera terbit juga. Menurut dia, peraturan tersebut siap dijadwalkan terbit dalam waktu dekat ini. Gita mengatakan akibat harga kedelai yang tidak menentu setiap harinya, membuat baik para petani maupun perajin tidak bersemangat berproduksi.

Disebutkan, jika kebutuhan kedelai di Tanah Air mencapai 2,4-2,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi di dalam negeri hanya berkisar 700 ribu-800 ribu ton di mana sisanya diperoleh dari impor. "Makanya, kami mesti membuat kebijakan tepat guna ke depan, agar petani semangat memproduksi di dalam negeri. Kalau terus bergantung impor yang saat ini mencapai 70 persen, maka sangat rawan gejolak harga di luar negeri apalagi jika terjadi cuaca buruk," ujarnya menambahkan.

Dalam kesempatan sama, salah satu perajin tahu tempe di sentra Semanan, Suyanto mengungkapkan harga kedelai yang tidak stabil membuat kalangannya menjadi enggan berusaha. Misalnya saja, dalam satu hari, harga kedelai bisa mengalami kenaikan sebanyak tiga kali. Sedangkan, perajin tahu tempe lainnya, Marzuki meminta agar pemerintah segera menunjuk Bulog untuk menstabilisasi harga.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina mengatakan jika nantinya Permendag yang bakal terbit akan mencakup tiga hal, di antaranya mekanisme stabilisasi harga, harga petani dan perajin yang ditetapkan per bulan berdasarkan harga internasional, serta penentuan tim stabilisasi harga.

Terkait Tata Niaga Impor Kedelai, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Bachrul Chairi menambahkan jika pemerintah akan memperlakukan setiap Importir Terdaftar (IT) baik BUMN (Perum Bulog) maupun swasta setara berdasarkan pada pengalaman dan kapasitas perusahaan masing-masing.

"Para IT ini, nantinya dilihat dari pengalaman tiga tahun mengimpor berturut-turut atau lima tahun tidak berturut-turut melakukan impor. Setelah itu, mereka harus ikut pernyataan skema stabilisasi harga kedelai, di mana beli dari petani dan menjual ke kopti dengan harga tertentu," ujarnya

Listya Pratiwi

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana