pencarian berita:
Jurnal Nasional - Sabtu, 01 Desember 2012 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Indonesia Bertekad Jadi Basis Produksi
Jakarta  | Sabtu, 01 Desember 2012
Wahyu Utomo

KONFERENSI Tingkat Tinggi ASEAN ke-21 yang berlangsung di Phnom Penh, Kamboja pekan lalu menyepakati diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) pada akhir 2015 mendatang. Butuh tiga tahun bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi era perdagangan bebas se-ASEAN ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Radjasa mengatakan tantangan bagi bangsa Indonesia adalah jangan sampai era ini justru membuat Indonesia menjadi pasar baru dengan masyarakat yang konsumtif. Pasalnya, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, dan menjadi magnet bagi pelaku usaha di negara lain. Indonesia disiapkan untuk menjadi basis produksi (production based).

Untuk menjadi basis produksi, Hatta mengatakan perlunya peningkatan daya saing (competitiveness) dan infrastruktur (konektivitas). Infrastruktur yang menghubungkan antar daerah di Indonesia. Disinilah peran program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . "Tiga tahun ini kami habis-habisan siapkan konektivitas dan infrastruktur agar investasi itu masuk ke Indonesia sebagai basis produksi untuk penetrasi pasar tidak hanya ASEAN, tetapi juga kawasan Asia Timur, kawasan dan pasar dunia, mana mungkin Indonesia jadi basis industri kalau tidak kompetitif," kata Hatta.

Hatta optimistis Indonesia mampu menghadapi era ini. Meski Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), dalam surveinya menyebut sumber investasi terbaik di ASEAN yaitu Singapura dan Malaysia. Namun, saat ditanyakan langsung kepada pelaku usaha, kemana akan memperluas usaha menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, 50 persen pengusaha memilih Indonesia. "Jadi sebetulnya investor melihat Indonesia tujuan investasi,production based," kata Hatta.

Hatta menilai keunggulan Indonesia yakni jumlah penduduk yang besar diikuti dengan meningkatnya masyarakat kelas menengah dan surplus demografi atau jumlah penduduk usia produktif yang besar. Oleh karena itu, dalam kurun waktu yang singkat ini, kata Hatta akan diatur mengenai aturan mengenai bebasnya aliran barang, jasa, modal, investasi, hingga sumber daya manusia. Pembahasan ini harus ekstra hati-hati, jangan sampai mengganggu industri di negara lain dan merusak era kompetisi ini.

Inilah yang pernah terjadi dengan Indonesia saat menghadapi perdagangan bebas dengan China. "Kami saat ini sangat siap, walaupun tantangan tidak sedikit. Tantangannya adalah bagaimana membuat efisiensi biaya logistik dari 14,08 persen yang membebani ongkos produksi, dibuat menjadi 10 persen," kata Hatta. Tantangan lain yang juga harus diatasi yakni masalah korupsi dan perizinan.

Terpisah, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dalam forum Indonesia Services Dialogue mengatakan, akan diterbitkannyavisa on arrivalnegara-negara anggota ASEAN. Langkah ini mengadopsi penerbitan visaschengen, visa yang di terima oleh 22 negara dari 27 negara anggota Uni Eropa. Pada akhirnya, Mari menekankan, pembenahan infrastruktur pariwisata. "Pengembangan konektivitas bandara dan pelabuhan, lalu pelayanan transportasi udara, laut dan darat, hingga pada akhirnya kami sediakan investasi yang kondusif," kata Mari.

Dekan Eksekutif Fakultas Profesi dari Universitas Adelaide Christopher Findlay mengatakan, untuk membangun bisnis internasional perlu memanfaatkan moda transportasi di seluruh lini. Untuk bisa terhubung ke dunia internasional, yang terpenting yakni pengembangan transportasi udara. Bandar udara hendaknya dibangun di berbagai daerah di Indonesia. Sederhana saja, pembangunan bandara tidak perlu sepenuhnya dilakukan pemerintah, BUMN perlu dilibatkan di dalamnya. "Bandara tidak perlu sama di semua tempat, tidak perlu mewah, kita buat yang sederhana namun tetap memperhatikan konstruksi," kata Findlay.

Roswita

close
Jakarta

Sumber investasi terbaik di ASEAN Singapura dan Malaysia.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana