pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 29 Maret 2012 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Potret Pendidikan di Kepulauan Yapen (Bagian 4)
 | Kamis, 29 Maret 2012

ARIFIN Kanyuga guru di SMP Negeri Menawi, mengatakan, pernah tahun lalu ada sekitar delapan orang anak dikembalikan ke SD YPK Kontinuai, SD YPK Tabernakel Kainui dan SD Inpres II. “Saat pendaftaran siswa baru tahun lalu, delapan orang yang dikembalikan ke sekolah asal, lantaran belum bisa membaca,‘ katanya.

Parlin Saragih, guru SMK Negeri 1 Kainui Distrik Angkaisera mengatakan, kondisi pendidikan di distrik itu, setiap penerimaan siswa baru ada saja sekolah menolak siswa yang tidak bisa membaca. Ini terjadi lebih banyak siswa SD yang akan melanjutkan ke SMP. “Seperti siswa SD ke SMP itu banyak siswa SD yang ditolak karena tidak tahu menghitung, membaca dan menulis dan setiap tahun pasti ada."

Parlin mengaku telah menjadi guru di distrik ini sejak 2002. “Banyak sekali temuan siswa sekolah yang tidak bisa membaca ketika akan melanjutkan ke jenjang SMP bahkan SMK pun." Dia mencontohkan, saat menjadi panitia pendaftaran tahun 2011. SMK Negeri 1 Kainui, menolak dua siswa SMP yang hendak melanjutkan ke SMK. “Penolakan itu terjadi dengan alasan tidak tahu membaca. Menurut dia, siswa yang ditolak itu, dari beberapa kampung di Angkaisera, ada juga yang dari daerah Yobi dan distrik Kepulauan Pantura."

Sebelumnya, guru yang menjadi ketua penerimaan siswa baru pada 2009 ini, pernah memulangkan lima siswa SMP. Jumlah SMP di Angkaisera, hanya satu yaitu SMP Negeri III Menawi. Lainnya, tersebar di beberapa distrik tetangga. Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Yapen, Cyfrianus Y Mambay membantah. Menurut dia, para siswa bukan tidak tahu membaca, tetapi masih berat atau belum lincah membaca. Jumlah hanya mencapai satu hingga dua orang anak. Ini bukan saja di sekolah-sekolah di Angkaisera termasuk di beberapa distrik di kabupaten ini bahkan seluruh Papua.

“Mereka hanya masih belum lincah membaca, bukan tidak tahu membaca sama sekali," katanya.

Cyfrianus, mengatakan, sarana sekolah di Angkaisera sebenarnya sudah memadai. Namun, kriteria dan pembelajaran baca menjadi kunci utama. “Kalau siswa belum bisa membaca seharusnya tidak boleh naik kelas apalagi sampai bisa masuk SMP. Artinya, itu terbukti siswa sebenarnya mengenal huruf dan bisa membaca tapi masih lambat." “Kalau sama sekali siswa tidak kenal huruf A besar, tidak mungkin siswa dapat menulis nama di lembaran jawaban."

Dia mengakui kesulitan yang dihadapi para guru di lapangan. Ada guru juga yang belum melaksanakan tugas dengan baik, masih banyak meninggalkan tempat tugas. Mereka lebih banyak alpa antara lain, karena sarana tempat tinggal.

“Sepekan lalu saya mengunjungi beberapa sekolah, seperti di distrik Kepulauan Ambai, itu SMP, karena sarana tempat tinggal tidak ada beberapa guru itu mereka menggunakan tiga ruang belajar untuk tinggal. Ini kendala utama, tapi kalau sarana belajar sudah cukup memenuhi syarat." Dia mengakui, kesulitan membangun perumahan guru. Opin Tanati

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana