pencarian berita:
Jurnal Nasional - Senin, 12 Maret 2012 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Manajemen Penanganan Penyakit Rendah
Jakarta | Senin, 12 Maret 2012
Vien Dimyati

KUALITAS penanganan penyakit di rumah sakit (RS) di Indonesia, masih terbilang rendah. Kondisi ini terlihat dengan makin meningkat orang berobat keluar negeri dengan alasan pelayanan. Public Affair & Communications Director Worldwide Biopharmaceutical Businesses PT Pfizer Indonesia, Widyaretna Buenastuti mengatakan, manajemen penanganan penyakit di RS luar negeri seperti Singapura, sudah memiliki protokol penatalaksanaan nyeri (pain management) yang inovatif bagi pasien. Di Indonesia, belum ada satu pun rumah sakit yang melaksanakan pain management ini.

“Maka itu, tidak heran jika orang-orang Indonesia banyak berobat ke luar negeri. RS Singapura, sudah ada protokol melaksanakan penatalaksanaan nyeri. Di Indonesia standar belum ada," katanya di Jakarta, Sabtu (10/3).

Dalam membantu program pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas manajemen RS di Indonesia, Pfizer bekerja sama dengan Joint Commission International (JCI) memperbaiki program kualitas pengelolaan RS.

JCI adalah sebuah badan sertifikasi internasional yang fokus pelayanan kesehatan dan berpusat di Amerika Serikat. Lembaga ini menilai standar pelayanan kesehatan berkualitas dan fokus pada keselamatan pasien. Primary Care Marketing Director Worldwide Biopharmaceutical Businesses PT Pfizer Indonesia, Agus Heru Darjono mengajak, para pembentuk opini, baik di level internasional maupun regional merangkul ahli bidang pelayanan kesehatan dan menjajaki protokol penatalaksanaan nyeri yang inovatif.

Dia menjelaskan, mengapa pain management ini perlu sebab kebanyakan pasien ke RS memiliki rasa nyeri. “Pemahaman penanganan tenaga kesehatan di RS masih rendah ini yang membuat pasien berobat ke luar negeri. Di sana pasien puas karena mendapatkan pelayanan baik," ucap Agus.

Dia mendorong RS pemerintah, swasta, dokter-dokter, dan tenaga kesehatan mengevaluasi prosedur internal penanganan penyakit pasien. Lalu, memelopori praktik penanganan penatalaksanaan nyeri yang inovatif. “Penatalaksanaan nyeri ini tren terkini. Penanganan medis berkualitas dalam mengindikasi kesehatan seseorang tidak hanya berupa pengukuran tinggi badan, berat badan dan tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, dan temperatur tubuh. Juga mencakup pengukuran dan penanganan rasa sakit."

Seiring pemerintah menyiapkan RS mendapat akreditasi JCI, dokter dan tenaga kesehatan harus dipersiapkan dengan mengevaluasi dan memperbaiki penanganan kualitas penatalaksanaan nyeri. RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) baru akan memulai memperbaiki penatalaksanaan nyeri ini.

Direktur Rujukan Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Chairul Radjab Nasution mengatakan, pemerintah mendorong tujuh rumah sakit di lima kota besar mendapat akreditasi JCI. Tahun ini, dua atau tiga rumah sakit diharapkan sudah mendapat akreditasi JCI. Bahkan, pemerintah mengajukan enam rumah sakit di empat

kota mendapatkan akreditasi internasional tahap berikutnya. "Akreditasi internasional ini diharapkan dapat mencegah laju pertumbuhan orang Indonesia berobat ke luar negeri." Vien Dimyati

Kutipan: mendorong RS pemerintah, swasta, dokter-dokter, dan tenaga kesehatan mengevaluasi prosedur internal penanganan penyakit pasien. Lalu, memelopori praktik penanganan penatalaksanaan nyeri yang inovatif.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana