pencarian berita:
Jurnal Nasional - Rabu, 01 Februari 2012 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Angka Kematian Ibu Masih Tinggi
Jakarta | Rabu, 01 Februari 2012
Vien Dimyati
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah terpencil Indonesia masih tergolong tinggi. Selain karena akses layanan kesehatan dasar yang terbatas, kondisi geografis yang sulit. Juga karena keterbatasan jumlah dan penyebaran sumber daya manusia kesehatan di wilayah terpencil yang minim.

Spesialis Nutrisi dan Maternal Child Health World Vision Indonesia (WVI), Sigit Sulistyo mengatakan berdasarkan data dari UGM dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), AKI dan AKB di wilayah Timur Indonesia masih tinggi. Terutama di wilayah terpencil.

Berbeda dengan situasi di Pulau Jawa, yang sudah mengalami penurunan meski tidak terlalu signifikan. Hal tersebut dikarenakan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatannya baik.

"Wilayah yang masih tinggi AKI dan AKB-nya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Papua, dan sekitarnya," kata Sigit Sulistyo, pada Diskusi Kesehatan bersama World Vision Indonesia, di Jakarta, Selasa (31/1).

Untuk AKB, dalam Riskesdas 2007, NTT tercatat paling tinggi di Indonesia, juga memiliki presentase balita yang mengalami kekurangan gizi tertinggi yaitu 33,6 persen.

"Data global membuktikan bahwa 50 persen-60 persen kematian bayi dan balita masih terkait dengan masalah gizi," kata dia.

Ia memaparkan, dalam satu tahun ini sejak April 2010, World Vision Indonesia bersama para mitra dan masyarakat melakukan "Kampanye Child Health Now: 1.000 Hari yang Menentukan". Kampanye yang dilakukan di beberapa tempat ini bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

Sigit menjelaskan, salah satu daerah yang menjadi fokus world vision adalah Kabupaten Jayawijaya, Papua. Sama dengan wilayah terpencil lainnya di Indonesia Timur lainnya, AKI di kabupaten Jayawijaya masih tinggi.

"Di sana (Jayawijaya) ibu hamil hanya empat kali periksa kehamilan. Dari 15 desa percontohan dan lima kecamatan, hanya 15 persen saja ibu hamil yang ditolong melalui tenaga kesehatan. Selebihnya mereka melahirkan menggunakan dukun dan sebagian kecil melahirkan sendiri," kata Sigit.

Menurut dia, menurunkan AKI di Kabupaten Jayawijaya sangat sulit jika hanya dilakukan dengan intervensi berbasis masyarakat. Ini perlu intervensi berbasis klinis. Berbeda dengan AKB yang sudah berhasil diturunkan hanya dengan intervensi berbasis masyarakat.

"Intervensi klinik ini adalah fasilitas pelayanan kehamilan. Karena jarak puskesmas dan desa sangat jauh dan terkendala geografis. Butuh 2,5 jam-3 jam menuju puskesmas, bahkan jumlah tenaga kesehatan yang minim," kata dia.

Oleh karena itu, lanjut Sigit dalam upaya menurunkan AKI dan AKB tidak cukup dengan mengirimkan tenaga kesehatan ke desa. Namun, perlu dibarengi dengan upaya memberdayakan, mendampingi, mendukung, dan menguatkan masyarakat lokal agar mampu menjadi kader dan pendidik bagi masyarakat lainnya di desa tersebut. "Kader-kader ini bisa menjadi kader kesehatan dengan dilakukan pelatihan," kata dia.
close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana