pencarian berita:
Jurnal Nasional - Rabu, 07 Desember 2011 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Sosialisasi HIV/AIDS Perlu Ditingkatkan
Jakarta | Rabu, 07 Desember 2011
Vien Dimyati

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar menilai sosialisasi pengetahuan mengenai HIV/AIDS masih minim dilakukan. Hal tersebut terbukti dengan masih terjadinya kasus diskriminasi terhadap anak yang memiliki keluarga/orang dengan HIV-AIDS (ODHA).

"Sangat disayangkan kasus seperti itu masih terjadi. Bahkan ketidaktahuan tersebut terjadi pada dunia pendidikan. Padahal seharusnya dunia pendidikan sudah harus paham mengenai pengetahuan HIV/AIDS," kata Linda, di Jakarta.

Ia menjelaskan, sosialisasi tentang kesehatan reproduksi (kespro) yang juga erat kaitannya dengan HIV/AIDS harus lebih ditingkatkan lagi agar semua masyarakat paham bahwa HIV/AIDS itu tidak gampang menular.

Menurut dia, harus diketahui bahwa HIV hanya dapat menular lewat darah. Misalnya bisa tertular bagi orang yang memakai narkoba yang penggunaan jarum suntiknya dilakukan secara bergantian. "Selain itu HIV/AIDS juga bisa tertular jika terjadi transfusi darah dari orang HIV/AIDS, bisa lewat hubungan seksual, ibu hamil penderita HIV/AIDS yang menularkan kepada bayinya dan air susu ibu HIV/AIDS," katanya.

Linda menegaskan bahwa ke depan agar tidak lagi terjadi kasus yang sama terhadap siswa/siswi di dunia pendidikan. Ia juga meminta agar sosialisasi mengenai pemahaman HIV/AIDS agar lebih ditingkatkan lagi.

Zipporah Imogen Divine adalah putri dari Fajar Jasmin Sugandhi, seorang penulis yang terinfeksi HIV positif. Immi, panggilan akrabnya, tidak terinfeksi HIV seperti ayahnya, namun ia tetap menerima diskriminasi karena menjadi anak seorang yang terinfeksi HIV.

Immi yang baru saja diterima di SD Don Bosco 1 Kelapa Gading, tiba-tiba saja ditolak dan penerimaannya dibatalkan hanya melalui pesan singkat (SMS), Kamis lalu (1/12). Pihak sekolah beralasan membatalkan keputusan menerima Immi karena beberapa calon orang tua siswa menolak keberadaan Immi.

Kasus diskriminasi seperti ini di dunia pendidikan merupakan hal yang sangat disayangkan. Padahal belum lama ini, seluruh dunia memperingati Hari AIDS Sedunia. Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia, di Indonesia Wakil Presiden, Boediono mencanangkan Kampanye Penanggulangan HIV/AIDS "Aku Bangga Aku Tahu".

Dalam pencanangan tersebut Wapres didampingi Isteri Ibu Herawati Boediono. Selain itu hadir Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, Menteri Perhubungan, Evert Erenst Mangindaan, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Mboi.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, dalam laporannya menyatakan, jumlah kumulatif kasus HIV sejak tahun 1987 sampai dengan September 2011 tercatat sebanyak 71.437 kasus.

Sedangkan jumlah kasus baru tahun 2011 ada sebanyak 15.589, sedangkan tahun 2010 sebanyak 21.591 kasus. Jumlah kumulatif kasus AIDS sampai dengan bulan September tahun 2011 tercatat sebanyak 28.041. Sedangkan jumlah kasus baru tahun 2011 saja sebanyak 1.805, dan tahun 2010 sebanyak 4.917 kasus.

"Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (45,9 persen), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (31,1 persen) dan kelompok umur 40-49 tahun (9,9 persen)," kata Tjandra.

Sedangkan pada tahun 2011 saja, proporsi tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun, yaitu sebanyak 33,2 persen, kemudian diikuti kelompok umur 20-29 tahun (30,9 persen), dan kelompok umur 40-49 tahun (12,9 persen).

Ia memaparkan, angka kematian (Case Fatality Rate/CFR) AIDS tahun 2011 menurun dibandingkan tahun 2010, yaitu dari 3,7 persen (2010) menjadi 1,0 persen (2011).

"Secara bertahap jumlah layanan yang diberikan Kementerian Kesehatan akan ditingkatkan, sehingga masyarakat makin mudah untuk mengakses layanan tersebut dalam menanggulangi HIV/AIDS," kata dia.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana