pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 01 Desember 2011 halaman 9
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Rangkaian Tradisi Tenun Lawon yang Mulai Terkikis
Purwokerto | Kamis, 01 Desember 2011

BEBERAPA pekan lalu, Desa Pekuncen di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah ditetapkan sebagai salah satu desa adat oleh Kementerian Dalam Negeri. Satu unsur dari beberapa tolok ukur penetapan tersebut adalah tradisi unik yang dimiliki oleh para keturunan Bonokeling ini, yaitu tenun kain lawon.

Hanya saja sejak awal tahun ini masyarakat kesulitan memperoleh bunga kapas sebagai bahan baku pembuatan benang lawe. Kendala ini pun diakui bisa berakibat memutus atau bahkan menghilangkan salah satu rangkaian tradisi tenun kain lawon khas masyarakat Pekuncen.

Bagi warga Bonokeling, kain lawon lebih banyak digunakan sebagai mori atau kain pembungkus jenazah. Sejak dahulu kala, mereka memang tidak menggunakan kafan seperti yang digunakan dalam prosesi pemakaman masyarakat pada umumnya.

Alasannya, selain proses murca atau menyatunya raga dengan tanah berlangsung lebih alami, keberadaan kain lawon khususnya dalam tradisi warga Perkuncen ternyata merupakan wujud darma bakti seorang anak kepada orang tuanya.

"Sebagai anak yang menghormati orang tuanya, dia harus membuatkan beberapa lembar kain lawon. Bukan untuk dijual dan hasilnya diserahkan kepada orang tua, tetapi untuk membungkus jenazah bapak atau ibunya," kata salah satu tokoh adat Pekuncen, Ki Wiryatpada kepada Jurnal Nasional.

Perlu diketahui, dalam pembuatan kain lawon ini kurang lebih terdapat dua tahapan utama yaitu ngantih atau memintal bunga kapas menjadi benang dan nglawe atau menenun. Proses ngantih inilah yang oleh Ki Wiryatpada, dikatakan tengah terancam punah karena ketiadaan bahan baku.

Senada dengan tokoh adat, seorang pengantih yakni Ni Karsidem juga menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya, proses ngantih lebih sering terlihat pada saat musim kemarau. Pada musim tersebut kualitas bunga kapas sedang bagus-bagusnya.

Karena serat bunga kapas lebih mengembang dan tebal, warga hanya memerlukan sekitar 1,5 kg bunga kapas untuk membuat selembar kain lawon. Namun entah mengapa, secara lambat laun keberadaan tanaman kapas di Pekuncen semakin langka. Padahal harga yang ditawarkan tergolong tinggi yakni Rp50 ribu per kg nonbiji.

Sebagai alternatif supaya proses nglawe tidak terhenti, para penenun terpaksa menggunakan benang kapas produksi pabrik. Mereka biasa membeli benang tersebut dari industri pemintalan di Purbalingga.

Menurut Ni Kardisem, benang hasil pintalan pabrik sangat berbeda dengan lawe buatan masyarakat Pekuncen. Meski sama-sama berbahan dasar bunga kapas. Secara kasatmata, serabut benang pabrik memang lebih halus dan rapi. Berbeda dengan lawe khas Pekuncen yang lebih kasar dan tidak merata tingkat ketebalannya. Tetapi justru benang seperti ini yang diharapkan oleh pada penenun.

"Lawe hasil buatan warga Pekuncen lebih mudah saat disekul atau dilapisi nasi agar kaku dan lengket sehingga menghasilkan tenunan yang rapat sekaligus tebal. Sedangkan jika menggunakan benang pabrik, hasil tenunannya terlihat tipis. Jarak antar benang juga longgar," ujar Ni Karsidem.

Baik Ki Wiryatpada, Ni Kardisem dan sejumlah tokoh serta pelaku tradisi tenun lawe tidak dapat menjelaskan sebab hilangnya tanaman kapas baik dari Pekuncen atau wilayah sekitarnya.

Di satu sisi, para pengrajin tenun kain lawon sangat memerlukan keberadaan bunga kapas untuk menjaga keutuhan rangkaian tradisi yang telah lama mereka tekuni. Sisi lainnya, Pekuncen juga memiliki potensi sumber daya manusia dan lahan yang sangat luas untuk sekedar mengolah pertanian perdu kapas. Namun pada kenyataannya, sangat sulit menemukan tanaman kapas di desa adat tenun kain lawon ini.

close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana