pencarian berita:
Jurnal Nasional - Kamis, 26 April 2012 halaman 8
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Mendidik Karakter Anak-anak Tambang
 | Kamis, 26 April 2012
Fransiskus Saverius Herdiman

IRONIS memang. Di satu sisi perusahaan tambang mendulang uang dengan kehidupan yang mewah bak selalu berpesta pora, tapi di sisi lain masyarakat sekitar tambang atau para pekerja tambang, hidup dalam keadaan memprihatinkan.

Ketika mengunjungi lokasi tambang, coba Anda tengok kiri kanan jalan atau berdialog dengan masyarakat sekitarnya. Acapkali mereka melontarkan keluhan demi keluhan terkait operasi penambangan yang belum membawa berkah bagi mereka.

Salah satu hal mencolok yang dialami para keluarga sekitar tambang adalah kesulitan menyekolahkan anak-anak mereka. Selain karena kesulitan membayar uang sekolah, juga fasilitas pendidikan yang tidak ada atau kurang tersedia. Banyak di antara anak warga sekitar tambang itu berkeliaran di jalan, tanpa bisa menikmati pendidikan yang pantas. Mereka hanya menghirup debu yang beterbangan mengotori langit karena operasi tambang.

Karena keprihatinan itulah, PT Harapan Borneo Internasional (HBI), sebuah holding company perusahaan tambang batu bara jatuh hati kepada anak-anak tambang itu. Karena itu, perusahaan tambang batu bara terbesar di Samarinda, Kalimantan Timur, itu berkomitmen membantu anak-anak usia dini agar bisa menikmati pendidikan sebagaimana pantasnya bagi usia anak-anak.

Adalah Amron Trinadi, yang menawarkan gagasan memerhatikan pendidikan anak usia dini tersebut kepada perusahaan tempat ia mengabdi. Ia prihatin dengan anak-anak masyarakat seputar lokasi tambang yang sering berkeliaran di jalan. "Usia dini merupakan usia emas. Karena itu, jika mereka tidak mendapat pendidikan yang layak, maka masa depan mereka dan bangsa ini akan rusak,"ujarnya menjelaskan alasannya terlibat dalam pendidikan anak usia dini tersebut.

Pemikiran Amron tersebut bak gayung bersambut. Ternyata, bos PT HBI, Honardy Boentario, menerima usulan tesebut dan memberikan dukungan penuh. Perusahaan lantas mencari lokasi pendidikan anak usia dini (PAUD). Amron, yang juga Presiden Direktur PT Hamparan Bumi Lestari, yang bergerak dalam bidang reklamasi dan nurseri di Kalimantan Timur ini menemukan Yayasan Taman Persahabatan yang telah cukup lama menjalankan program PAUD. Walau dalam kondisi "hidup enggan mati tak mau" yayasan yang berdiri pada Agustus 2008 itu tetap menjalankan pendidikan anak usia dini.

Walau terletak di daerah kaya, tetapi fasilitas PAUD tersebut cukup memprihatinkan. Keadaan bangunan fisik yang tak mendukung membuat anak-anak tidak betah di dalam ruangan. Belum lagi, honor yang diterima para pengajar jauh dari cukup yakni hanya sebesar Rp100-200 ribu per bulan. Honor itu memang sulit bertambah karena biaya per anak hanya dipungut sebesar Rp35 ribu. Namun, dengan pungutan sebesar itu, masih banyak orang tua yang tidak menyanggupinya. Tak heran jika ada diantara anak usia dini di sekitar lokasi tambang tidak bisa menikmati pendidikan anak usia dini di yayasan tersebut.

Karena kepeduliannya, perusahaan mulai memperbaiki ruangan PAUD yang berada di Jalan Diponegoro, Rt 22, Rw 08, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimantan Timur itu. Selain itu, perusahaan melengkapi fasilitas pendidikan seperti alat bermain, dan ruangan yang menyenangkan. "Anak kan butuh bermain, butuh sesuatu yang fun, tempat bersih, supaya kenal kebersihan. Karena itu kita rapikan bangunannya,"ujar Amron.

Ada yang unik dalam penyelenggaraan PAUD di yayasan tersebut. Selain menjalankan program sesuai kurikulum PAUD, anak-anak juga diajarkan pendidikan karakter. Nah, soal pendidikan karakter ini, Amron adalah ahlinya. "Program yang saya susun ini mengajarkan tiga karakter utama,"ujarnya bersemangat.

Apa saja tiga karakter utama itu? Pertama, penuh perhatian (attentiveness). Mendidik karakter anak yang penuh perhatian, katanya, sangat bergantung pada orang tua. Jika orang tua tidak memiliki perhatian kepada anaknya, maka niscaya sang anak tidak mewarisi karakter demikian. "Karakter perhatian itu tampak dalam tingkah laku setiap hari, misalnya ketika ayah selalu memberi perhatian terhadap tindakan anaknya,"katanya.

Kedua, karakter kejujuran. Kejujuran sangat penting karena anak bangsa ini banyak melakukan tindakan tidak jujur. Ia mencontohkan korupsi yang sudah merajalela dan merusak sendi-sendi kehidupan bangsa.

Karakter ketiga yang diajarkan di PAUD ini adalah ketaatan. Amron menganalogikan ketaatan dengan seorang penerjun payung. Jika penerjun tidak taat pada "otoritas di atasnya" (payung) maka dia akan jatuh. Demikian pula jika seorang anak atau karyawan tidak taat pada orang tua atau atasannya, maka dia akan "jatuh".

Dalam ketaatan itu, Amron mengajarkan tiga hal yaitu, bertindak dengan segera, melaksanakan dengan sukacita, dan melakukan tugas yang lebih dari apa yang diperintahkan. "Anak buah yang taat mendapat kepercayaan lebih besar dari atasan, dan anak yang taat mendapat kepercayaan lebih besar dari orang tuanya,"ungkapnya.

Atas bantuan PT HBI, tempat ia bernaung, Amron telah menerbitkan buku modul pendidikan karakter. Pada Mei mendatang, ia akan mendatangkan para pakar untuk memberi pelatihan kepada 21 guru PAUD yang berada di Kecamatan Palaran.

Amron mengatakan, modul pendidikan karakter yang diterbitkannya lengkap dan berisi panduan yang praktis. Karena itu, dia memiliki obsesi buku itu akan digunakan secara luas untuk pendidikan karakter.

Pendidikan karakter, katanya, sangat dibutuhkan bangsa ini. Betapa tidak, para penyelenggara pemerintahan dan pemimpin bangsa tidak memiliki karakter yang mumpuni. Padahal, banyak pemimpin bangsa terdahulu memiliki karakter kepemimpinan yang patut dicontoh. Ia menyebutkan Jenderal Sudirman, yang sejak kecil telah menjadi komandan regu. Selain itu, ada proklamator, Hatta, yang hidup sederhana sampai tidak bisa membeli rumah dan sepatu merek Bally. Tokoh-tokoh tersebut bisa memimpin bangsa ini dengan baik karena sejak kecil memiliki karakter terpuji. "Karena kecil dia punya karakter, maka besar jadi pemimpin. Yang kayak begini harus belajar,"ucapnya.

Ia mengatakan bahwa para politisi saat ini hanya melihat selama empat tahun ke depan. Mereka tidak bisa menembus perjalanan bangsa ini hingga puluhan dan ratusan tahun ke depan. Karena itu, yang mereka lakukan hanya dalam kurung waktu jangka pendek, yaitu mengeruk sebanyak-banyaknya untuk kepentingan kelompoknya.

Amron memiliki pengalaman tak sedikit, mulai dari dunia pers, pabrik, hingga terjun di pertambangan. Bahkan, pada reshuffle pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, ia mengaku pernah ditawari untuk memimpin sebuah BUMN. "Saya tidak mencari ketenaran atau duit. Yang saya lakukan adalah untuk mengubah paradigma pertambangan, dari perusak lingkungan menjadi ramah terhadap lingkungan,"ungkapnya.

Penulis buku-buku character building ini memiliki impian agar namanya dicatat pernah melakukan sesuatu yang berharga di mata orang-orang atau lingkungan di sekitarnya. Walau sumbangan perusahaan terhadap yayasan masih terbilang kecil, tetapi PT HBI pimpinan Honardy itu memiliki komitmen terhadap pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini. Anak-anak dari keluarga tidak mampu diberi beasiswa, agar mereka bisa belajar. Perusahaan terus mengembangkan Yayasan Taman Persahabatan agar menjadi model bagi pendidikan PAUD yang lain.

Kini, para ibu guru yang mengajar anak-anak di yayasan tersebut boleh tersenyum lega. Anak-anak usia dini pun bisa belajar dan menimba pendidikan karakter dengan nyaman. Betapa tidak, impian mereka selama bertahun-tahun mendapat jawaban. PT HBI dan Amron Trisnadi membuat impian itu menjadi kenyataan. Very Herdiman

close

Pada Mei mendatang, Amron akan mendatangkan para pakar untuk memberi pelatihan kepada 21 guru PAUD di Kecamatan Palaran.

copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana