pencarian berita:
Jurnal Nasional - Rabu, 22 Februari 2012 halaman 8
 
Alamat
Pilih halaman:
Date:
Cls
Berjuang Melalui Jurnalistik
 | Rabu, 22 Februari 2012
Arie MP Tamba
Djamaluddin Adinegoro (1904-1967) adalah perintis pers Indonesia. Namanya diabadikan melalui Penghargaan Adinegoro yang setiap tahun diberikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia kepada wartawan yang tulisannya (atau karya jurnalistiknya) dianggap bermutu.

Adinegoro dikenal sebagai seorang wartawan, sastrawan, dan analis politik. Melalui tulisannya di berbagai surat kabar, Adinegoro berkontribusi besar dalam pengembangan bahasa Indonesia melalui karya jurnalistik.

Adinegoro lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada 14 Agustus 1904. Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sutan.

Karena posisi yang penting dalam sejarah jurnalistik di Indonesia, Adinegoro sering menjadi bahan ulasan. Namun tidak banyak penulis yang menyinggung hubungan kekeluargaan Adinegoro dengan sastrawan Muhammad Yamin, yang kelak lebih dikenal sebagai pemikir kebangsaan Indonesia, selain Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dll.

Adinegoro adalah adik Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah.

Adinegoro semula adalah nama samaran Djamaluddin. Nama samaran ini terpaksa dipakainya karena ketika bersekolah di Stovia ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Maka dipakainyalah nama samaran Adinegoro sebagai identitasnya yang baru.

Adinegoro pun menyalurkan keinginannya untuk memublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Datuk Madjo. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai wartawan dan sastrawan, lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin.

Adinegoro memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah itu. Ketika belajar di luar negeri (1926-1930), ia juga menjadi wartawan bebas (freelance journalist) pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Jakarta).

Ketika berkesempatan tinggal di Utrecht, Belanda, Adinegoro juga bekerja sebagai asisten sukarela untuk beberapa surat kabar. Setelah itu ia pindah ke Berlin, Munich, dan Warzburg untuk belajar jurnalisme, geografi, kartografi, dan filsafat. Dari Jerman, Adinegoro mengunjungi negara-negara Balkan, Eropa Tenggara, Turki, Yunani, Italia, Mesir, Abisinia, dan India yang memberinya ide-ide untuk menulis.

Laporan perjalanan jurnalistik pertama Adinegoro muncul di majalah Pandji Pustaka dan kemudian diterbitkan sebagai buku, Perjalanan ke Barat. Pada saat itu tulisan-tulisan Adinegoro telah mendapat perhatian dari para pemuda di Hindia Belanda. Tulisannya berisi informasi dan ilmu pengetahuan mutakhir, yang disajikan secara populer hingga mudah dimengerti pembaca yang (bahkan) tidak memiliki pendidikan tinggi.

Setelah kembali ke Tanah Air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka (pada tahun 1931) dan menulis di Bintang Timoer. Akan tetapi, ia hanya bertahan enam bulan di sana. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932-1942).

Di bawah kepemimpinan Adinegoro, Pewarta Deli banyak mengalami perbaikan dan perubahan, tidak hanya dalam hal tata letak dan pelaporan berita, tapi juga dalam pilihan artikel. Perhatian pembaca Pewarta Deli ditujukan pada kecemerlangan tulisan Adinegoro. Uniknya, artikelnya tentang perang di Abyssinia dan perang sipil di Spanyol menyertakan sebuah peta yang menunjukkan lokasi perang, hingga memudahkan pembaca memahami laporannya.

Pada 25 Agustus 1932 Adinegoro menikah dengan Alidar binti Djamal, seorang wanita dari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat, temannya dari STOVIA. Mereka dikaruniai lima anak.

Selama masa kolonialisme Belanda dan kemudian Jepang, meskipun hidup kekurangan, Adinegoro memiliki komitmen tinggi sebagai wartawan dan sastrawan. Ia juga berhasil menyelesaikan dua novel: Darah Muda dan Asmara Jaya.

Dalam sebuah editorial Pewarta Deli, Adinegoro pernah mengungkapkan pemikirannya tentang kolonialisme, perjuangan untuk kemerdekaan, nasionalisme dan pendidikan. Tulisannya tajam dan elegan. Karena kehebatannya dalam memilih kata-kata, Adinegoro berhasil lolos dari perangkap hukum yang dibuat pemerintah kolonial Belanda di Persbreidel-Ordonantie. Adinegoro selalu diawasi karena aktivitasnya dalam mendukung gerakan nasionalis.

Selama pendudukan Jepang, Adinegoro memimpin harian Sumatera Shimbun. Lalu ia ditugaskan sebagai Kepala Departemen Umum Chuo Sangi Sumatera Kai, dan Adinegoro pindah ke Bukittinggi. Setelah proklamasi kemerdekaan, Adinegoro ditugaskan sebagai kepala Komite Nasional Sumatera. Dia mendorong orang-orang Sumatera untuk melaksanakan perintah Presiden: mengambil alih pemerintahan dari Jepang dan menyatakan proklamasi kemerdekaan bersama pemimpin lokal.

Setelah kemerdekaan, Adinegoro menjalankan koran Kedaoelatan Rakyat. Ia juga mendirikan layanan Newswire Antara cabang Sumatera. Kemudian, bersama Prof Dr Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948-1950).

Adinegoro berkesempatan meliput KMB, Den Hag, pada 1949. Ia juga mendirikan penerbitan Djambatan sebagai penghubung dua pihak yang berseteru, Indonesia dan Belanda, dengan membuka saling pengertian melalui buku.

Pada 1951 Adinegoro memimpin Aneta. Pada 1956 Adinegoro menasionalisasikannya dengan mengubah namanya menjadi Persbiro Indonesia. Masa itu Adinegoro ikut melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden Soekarno, dan meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957.

Pada 1963, ketika Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin.

Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982) mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya, Darah Muda dan Asmara Djaja, Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu (yang dijalankan oleh pihak kaum tua).

Di samping Darah Muda dan Asmara Djaja, karya Adinegoro lainnya, Melawat ke Barat, kerap dianggap memiliki kualitas sastra. Isinya berupa kisah perjalanan Adinegoro ke Eropa, yang sebelumnya telah terbit sebagai laporan jurnalistik Perjalanan ke Barat pada 1930.

Adinegoro juga terlibat dalam Polemik Kebudayaan yang terjadi pada 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul Kritik atas Kritik terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang dieditori Achdiat Karta Mihardja (1977).

Dalam esainya itu. Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas yang tak dapat ditiru orang lain. Adinegoro memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, demikian sebaliknya. n Arie MP Tamba/berbagai sumber
close
copyright © 2011 PT. Media Nusa Pradana